Feeds:
Posts
Comments

Ketika perawat mengantarkan berkas rekam medis seorang klien, saya langsung terhenyak. Tebal banget nih berkasnya? Sakit apa aja? Penasaran, saya buka-buka sebelum klien masuk ruangan. Wow.. aneka rupa penyakit mampir di sana. Tidak lama, saya persilakan klien masuk ruangan. Seorang bapak yang masih tampak gagah, rambutnya beruban, berusia kurang lebih 70 tahunan. Didampingi istrinya yang ramah. Menurut cerita si bapak, sejak ia pensiun setahun lalu, kondisi kesehatannya menurun. Sakit bergantian, mulai dari ujung kepala sampai kaki. Sebelum pensiun, ia memegang jabatan cukup tinggi di perusahaan negara. Beberapa proyek pernah dikerjakan sebagai hasil pemikirannya. Anak buahnya cukup banyak, lebih dari 500 orang. Kegiatannya saat ini mengurus rumah kos-kosan. Keluhannya datang konsultasi karena ia merasa cemas, takut, dan bingung padahal ia tidak merasa ada sesuatu yang mengganggu dirinya. Finansial tercukupi, anak-anak sudah mapan, istri mendukung kegiatannya, bahkan sakitnya pun tidak dirasakan berat. Ya, itulah gejala Post Power Syndrome(PPS). Apa sih PPS itu? Secara garis besar, PPS adalah kondisi ketidakmampuan individu beradaptasi secara psikologis dengan masa pensiun, yang berakibat pada gangguan pada fisik, psikis, sosial maupun spiritual. Penyesuaian diri pada masa pensiun akan makin berat bila individu tersebut memiliki jabatan/posisi/kekuasaan/simbol sukses lainnya sebelum pensiun. Masa transisi dari bekerja ke masa pensiun ini mirip seperti orang yang baru diamputasi. Mereka merasakan sensasi rasa nyeri seolah-olah bagian tubuh yang diamputasi masih ada, namanya Phantom Pain. Atau kalau kita mengikat jari kita dengan karet gelang cukup kuat, lalu melepaskan karet itu, rasa terikat karet itu masih ada. Fenomena itulah yang terjadi pada para pensiunan. Mereka masih merasa seolah-olah punya jabatan, masih merasa “mengenakan” jubah kekuasaan. Mereka masih dibayang-bayangi keberhasilan masa lalu. Mereka kaget, tiba-tiba saat ini mereka bukan siapa-siapa lagi. Fenomena mirip Phantom Pain ini bisa diamati di sekitar kita. Pernahkah Anda melihat seorang mantan pejabat negara yang senang sekali membandingkan keberhasilan masa lalunya dengan periode kepemimpinan saat ini? Kata-kata favorit yang sering digunakan biasanya adalah “Kalau jaman saya dulu….”, “Dulu saya lakukan… sekarang ini mereka tidak…”,dan sebagainya. Malah ada yang setiap hari masih mengenakan seragam sebagaimana dia dulu. Masih bertindak seolah-olah penguasa di mana pun berada, yang dapat dipersepsikan orang lain sebagai bentuk arogansi. Malah menghadirkan cemoohan, “Nggak tahu diri tuh, sudah nggak menjabat tapi minta dihormati”. Mengapa Orang Mengalami Post Power Syndrome? Ada orang yang mengalami, tapi ada juga yang tidak terlalu menunjukkan gejala PPS. Apa sih yang sebenarnya terjadi pada diri para pensiunan tersebut? Bagi orang yang tadinya punya posisi tertentu, hilangnya rasa dihargai dan dibutuhkan merupakan sumber dari sulitnya beradaptasi pada masa transisi ini. Bila pada masa aktif menjabat, hampir setiap hari ia menangani berbagai persoalan, kini seolah-olah tidak ada lagi yang membutuhkan dirinya. Kalau dulu seringkali mendapatkan sapaan penuh hormat, kini tukang sayur pun seolah enggan menyapa. Dulu bingkisan hari raya berdatangan bagaikan nyamuk di musim nyamuk (emang ada?), sekarang sebotol kopi pun dikirimkan oleh warung sebelah dengan catatan : boleh bayar bulan depan. Faktor penyebab lainnya adalah kehilangan sumber pendapatan. Kalau dulu ada penghasilan tetap beserta tunjangan setiap bulan, kini tidak ada lagi. Uang pensiun bukanlah sesuatu yang membanggakan karena jumlahnya sedikit. Mau tidak mau, perubahan gaya hidup terpaksa dilakukan. Di sinilah terasa beban beratnya. Mengubah gaya hidup itu nggak gampang lho. Biasa makan lobster, eh sekarang terpaksa makan ikan pindang plus nasi hangat saja, itu menurunkan gengsi sampai pada titik malu terendah. Bisa jadi perut ikutan berulah. Susah khan… Pekerja aktif biasanya punya jadwal kerja sistematis dan terencana. Ketika pensiun, mereka kehilangan orientasi pekerjaan. Mau ngapain ya? Bingung. Bangun pagi tidak perlu tergesa-gesa. Hari demi hari terasa berjalan lambat. Kalau dulu sewaktu bekerja, jarum jam bergerak setara mobil F1. Sekarang? Mereka seolah-olah bisa mendengar bunyi detak detik per detik. Lamaaaaa…sekali untuk sampai pada hari berikutnya. Bila ini terjadi, lambat laun individu tersebut merasakan hampa dalam hidupnya. Tidak ada target yang dikejar, tidak ada argumentasi habis-habisan untuk memenangkan ide, dan tidak ada lagi tenggat waktu yang harus dipenuhi. Pada orang-orang yang meletakkan identitas dirinya pada jabatan/kekayaaan/simbol sukses lainnya lebih rentan mengalami PPS. Ketika jabatan/kekayaan/simbol suksesnya hilang, ia menjadi individu “telanjang”. Identitas dirinya mendadak hilang. Dirinya kosong. Muncul pertanyaan pada diri, “Siapakah aku?”. Mereka merasa tidak berarti, apalagi bila orang-orang di sekitarnya tidak menunjukkan rasa hormat seperti biasanya. Makin berat masa adaptasi ini baginya. Gejala Post Power Syndrome Semakin sulit seseorang menyesuaikan diri pada masa ini, makin banyak gejala yang muncul, antara lain : Gejala Fisik : mulai menderita berbagai penyakit. Penyakit yang berkaitan dengan daya tubuh mulai menghampiri, bergantian tanpa henti. Gejala Psikis : mudah tersinggung, gampang marah, cemas, mudah membentak, gelisah, membangga-banggakan masa lalu, dan sebagainya Gejala Sosial : menarik diri dari pergaulan sosial, tidak mau keluar rumah, sensitif terhadap perkataan orang lain, konflik, dan sebagainya Gejala Spiritual : kehilangan makna beribadah, meninggalkan rutinitas ibadah, merasa jauh dari Sang Pencipta, tidak punya harapan hidup karena tidak bermakna hidupnya Penanganan Post Power Syndrome Program persiapan pensiun yang dilakukan oleh beberapa perusahaan cukup bagus untuk meringankan beban psikologis para calon pensiunan. Seorang teman menceritakan suaminya melalui masa pensiun dengan baik. Karena jauh sebelumnya sudah mempersiapkan bisnis. Gairah hidup tampak sekali ketika bisnis barunya berjalan lancar. Seorang pensiunan manager suatu perusahaan memilih aktivitas sosial setelah pensiun. Aktif dalam kegiatan keagamaan. Intinya kegiatan atau bisnis tersebut bukan hanya penting untuk adaptasi psikologis, tapi juga menggantikan sumber penghasilan tetapnya. Bila tidak ada sumber income yang hampir setara, maka mereka akan lebih sulit menyesuaikan diri pada masa ini. Selain itu mereka sendiri harus menyadari bahwa siklus kehidupan harus

Tulisan : Naftalia Kusumawardhani,

Psikolog Klinis di RS Mitra Keluarga (RSMK) Waru dan RSMK Kenjeran |Penulis buku Daruma’s Secret Power | klinikpsikologinaira.com

(kang solihin)
PESAN VIA FB DI SINI
sering dari zmz/email yg masuk beberapa kali menanyakan bagaimana cara download bios flash bios tanpa menggunakan evrom dan flash bios dengan ezp2010
caranya sederhana langsung saja:
flash bios tanpa evrom programer pada merek-merek tertentu seperti:
acer : langkahnya tekan tombol power bersamaan dengan menekan fn-esc
compaq: langkahnnya tekan tombol vower bersammaan dengan menekan tombol keyboard windows-B
toshiba: langkahnya tekan tombol vower bersamaan dengan menekan tombol ctrl – alt – u
NB:setelah langkah berjalan tunggu sampai lampu indikator berkedip dan otomatis laptop akan restar sendiri
apabila langkah di atas belum bisa memperbaiki maslah pada laptop
sekarang lakukan langkah plasing bios dengan evrom programer 2010
FLASING BIOS
1.download dulu file biosnya baik dari situs resmi maupun blog2 yang menyediakan file bios berbentuk rom/bin
2.pada saat browsing di google gunakan kata kunci seperti(download bios acer 4732z bin)
3.setelah ic bios terpasang pada alat evrom lakukan langkah2 seperti pada gambar di bawah ini
4.UNTUK DOWNLOAD FILE – FILE BIOS LAPTOP/NETBOOK DI SINI
NB: pencabutan ic bios terlebih dahulu harus melepas batrai cmos 
KETERANGAN LEBIH LANJUT LIHAT CONTOH GAMBAR CARA PLASH BIOS DENGAN EZP2010 DI BAWAH INI

 

 

 

Siapa Perampok ?

Sewaktu perampokan di Guangzhou, China, perampok bank berteriak kesemua orang di bank: “Jangan Bergerak. Uang ini Milik Negara, Hidupmu milikmu.” Semua orang di bank menunduk dengan tenang. Ini yang disebut “Konsep Merubah Pikiran” Merubah cara berpikir yang konvensional.

Ketika seorang wanita berbaring di meja secara profokatif, perampok berteriak padanya “Beradablah, Ini perampokan, bukan pemerkosaan!” Ini yang disebut “Professional” fokus hanya kepada apa yang kamu dilatih untuk..

Ketika Perampok kembali kerumah, perampok yang lebih muda (lulusan s2) berkata kepada perampok yang tua (lulusan sd): “Bang, ayo kita hitung berapa yang kita dapat.” Perampok yang lebih tua bilang “Bego banget lo. Duitnya banyak gitu lama pasti ngitungnya. Malem ini lihat aja di TV bakal bilang berapa yang kita rampok dari bank!” Ini yang disebut “Pengalaman.” Sekarang pengalaman lebih penting dari gelar..!

Setelah perampok pergi, manajer bank bilang pada supervisor bank untuk menelpon polisi secepatnya. Tetapi supervisor berkata: “Tunggu! Ayo kita ambil $10juta dollar dari bank untuk kita dan tambahkan ke $70juta dollar yang sudah diambil dari bank”.

Ini yang disebut “Sambil Berenang Minum Air.” Merubah keadaan tak baik menjadi keuntungan anda!

Supervisor berkata: ” Akan sangat bagus bila ada perampokan setiap bulan.”

Ini yang disebut “Membunuh Kebosanan” Kebahagiaan personal lebih penting dari pekerjaan anda.

Keesokan harinya, Berita TV melaporkan bahwa $100juta telah dicuri dari bank. Perampok menghitung dan menghitung, tetapi mereka hanya dapat $20juta dollar. Perampok sangat marah dan komplain “Kita meresikokan hidup kita dan hanya dapat $20juta dollar. Pekerja Bank mengambil $80juta dollar dengan santai. Sepertinya mendingan menjadi teredukasi daripada perampok!”

Ini yang disebut “Pengetahuan bernilai lebih banyak dari emas” Manajer bank tersenyum dan bahagia karena kekalahan di main saham dapat di bayarkan oleh perampokan yang terjadi. Ini yang disebut “Mengambil kesempatan.” Berani mengambil resiko!

Jadi siapakah pencuri Sejati dan lebih professional disini?

sumber : kaskus.co.id/spotlite dan Family Guide Indonesia