Feeds:
Posts
Comments

Ketika perawat mengantarkan berkas rekam medis seorang klien, saya langsung terhenyak. Tebal banget nih berkasnya? Sakit apa aja? Penasaran, saya buka-buka sebelum klien masuk ruangan. Wow.. aneka rupa penyakit mampir di sana. Tidak lama, saya persilakan klien masuk ruangan. Seorang bapak yang masih tampak gagah, rambutnya beruban, berusia kurang lebih 70 tahunan. Didampingi istrinya yang ramah. Menurut cerita si bapak, sejak ia pensiun setahun lalu, kondisi kesehatannya menurun. Sakit bergantian, mulai dari ujung kepala sampai kaki. Sebelum pensiun, ia memegang jabatan cukup tinggi di perusahaan negara. Beberapa proyek pernah dikerjakan sebagai hasil pemikirannya. Anak buahnya cukup banyak, lebih dari 500 orang. Kegiatannya saat ini mengurus rumah kos-kosan. Keluhannya datang konsultasi karena ia merasa cemas, takut, dan bingung padahal ia tidak merasa ada sesuatu yang mengganggu dirinya. Finansial tercukupi, anak-anak sudah mapan, istri mendukung kegiatannya, bahkan sakitnya pun tidak dirasakan berat. Ya, itulah gejala Post Power Syndrome(PPS). Apa sih PPS itu? Secara garis besar, PPS adalah kondisi ketidakmampuan individu beradaptasi secara psikologis dengan masa pensiun, yang berakibat pada gangguan pada fisik, psikis, sosial maupun spiritual. Penyesuaian diri pada masa pensiun akan makin berat bila individu tersebut memiliki jabatan/posisi/kekuasaan/simbol sukses lainnya sebelum pensiun. Masa transisi dari bekerja ke masa pensiun ini mirip seperti orang yang baru diamputasi. Mereka merasakan sensasi rasa nyeri seolah-olah bagian tubuh yang diamputasi masih ada, namanya Phantom Pain. Atau kalau kita mengikat jari kita dengan karet gelang cukup kuat, lalu melepaskan karet itu, rasa terikat karet itu masih ada. Fenomena itulah yang terjadi pada para pensiunan. Mereka masih merasa seolah-olah punya jabatan, masih merasa “mengenakan” jubah kekuasaan. Mereka masih dibayang-bayangi keberhasilan masa lalu. Mereka kaget, tiba-tiba saat ini mereka bukan siapa-siapa lagi. Fenomena mirip Phantom Pain ini bisa diamati di sekitar kita. Pernahkah Anda melihat seorang mantan pejabat negara yang senang sekali membandingkan keberhasilan masa lalunya dengan periode kepemimpinan saat ini? Kata-kata favorit yang sering digunakan biasanya adalah “Kalau jaman saya dulu….”, “Dulu saya lakukan… sekarang ini mereka tidak…”,dan sebagainya. Malah ada yang setiap hari masih mengenakan seragam sebagaimana dia dulu. Masih bertindak seolah-olah penguasa di mana pun berada, yang dapat dipersepsikan orang lain sebagai bentuk arogansi. Malah menghadirkan cemoohan, “Nggak tahu diri tuh, sudah nggak menjabat tapi minta dihormati”. Mengapa Orang Mengalami Post Power Syndrome? Ada orang yang mengalami, tapi ada juga yang tidak terlalu menunjukkan gejala PPS. Apa sih yang sebenarnya terjadi pada diri para pensiunan tersebut? Bagi orang yang tadinya punya posisi tertentu, hilangnya rasa dihargai dan dibutuhkan merupakan sumber dari sulitnya beradaptasi pada masa transisi ini. Bila pada masa aktif menjabat, hampir setiap hari ia menangani berbagai persoalan, kini seolah-olah tidak ada lagi yang membutuhkan dirinya. Kalau dulu seringkali mendapatkan sapaan penuh hormat, kini tukang sayur pun seolah enggan menyapa. Dulu bingkisan hari raya berdatangan bagaikan nyamuk di musim nyamuk (emang ada?), sekarang sebotol kopi pun dikirimkan oleh warung sebelah dengan catatan : boleh bayar bulan depan. Faktor penyebab lainnya adalah kehilangan sumber pendapatan. Kalau dulu ada penghasilan tetap beserta tunjangan setiap bulan, kini tidak ada lagi. Uang pensiun bukanlah sesuatu yang membanggakan karena jumlahnya sedikit. Mau tidak mau, perubahan gaya hidup terpaksa dilakukan. Di sinilah terasa beban beratnya. Mengubah gaya hidup itu nggak gampang lho. Biasa makan lobster, eh sekarang terpaksa makan ikan pindang plus nasi hangat saja, itu menurunkan gengsi sampai pada titik malu terendah. Bisa jadi perut ikutan berulah. Susah khan… Pekerja aktif biasanya punya jadwal kerja sistematis dan terencana. Ketika pensiun, mereka kehilangan orientasi pekerjaan. Mau ngapain ya? Bingung. Bangun pagi tidak perlu tergesa-gesa. Hari demi hari terasa berjalan lambat. Kalau dulu sewaktu bekerja, jarum jam bergerak setara mobil F1. Sekarang? Mereka seolah-olah bisa mendengar bunyi detak detik per detik. Lamaaaaa…sekali untuk sampai pada hari berikutnya. Bila ini terjadi, lambat laun individu tersebut merasakan hampa dalam hidupnya. Tidak ada target yang dikejar, tidak ada argumentasi habis-habisan untuk memenangkan ide, dan tidak ada lagi tenggat waktu yang harus dipenuhi. Pada orang-orang yang meletakkan identitas dirinya pada jabatan/kekayaaan/simbol sukses lainnya lebih rentan mengalami PPS. Ketika jabatan/kekayaan/simbol suksesnya hilang, ia menjadi individu “telanjang”. Identitas dirinya mendadak hilang. Dirinya kosong. Muncul pertanyaan pada diri, “Siapakah aku?”. Mereka merasa tidak berarti, apalagi bila orang-orang di sekitarnya tidak menunjukkan rasa hormat seperti biasanya. Makin berat masa adaptasi ini baginya. Gejala Post Power Syndrome Semakin sulit seseorang menyesuaikan diri pada masa ini, makin banyak gejala yang muncul, antara lain : Gejala Fisik : mulai menderita berbagai penyakit. Penyakit yang berkaitan dengan daya tubuh mulai menghampiri, bergantian tanpa henti. Gejala Psikis : mudah tersinggung, gampang marah, cemas, mudah membentak, gelisah, membangga-banggakan masa lalu, dan sebagainya Gejala Sosial : menarik diri dari pergaulan sosial, tidak mau keluar rumah, sensitif terhadap perkataan orang lain, konflik, dan sebagainya Gejala Spiritual : kehilangan makna beribadah, meninggalkan rutinitas ibadah, merasa jauh dari Sang Pencipta, tidak punya harapan hidup karena tidak bermakna hidupnya Penanganan Post Power Syndrome Program persiapan pensiun yang dilakukan oleh beberapa perusahaan cukup bagus untuk meringankan beban psikologis para calon pensiunan. Seorang teman menceritakan suaminya melalui masa pensiun dengan baik. Karena jauh sebelumnya sudah mempersiapkan bisnis. Gairah hidup tampak sekali ketika bisnis barunya berjalan lancar. Seorang pensiunan manager suatu perusahaan memilih aktivitas sosial setelah pensiun. Aktif dalam kegiatan keagamaan. Intinya kegiatan atau bisnis tersebut bukan hanya penting untuk adaptasi psikologis, tapi juga menggantikan sumber penghasilan tetapnya. Bila tidak ada sumber income yang hampir setara, maka mereka akan lebih sulit menyesuaikan diri pada masa ini. Selain itu mereka sendiri harus menyadari bahwa siklus kehidupan harus

Tulisan : Naftalia Kusumawardhani,

Psikolog Klinis di RS Mitra Keluarga (RSMK) Waru dan RSMK Kenjeran |Penulis buku Daruma’s Secret Power | klinikpsikologinaira.com

(kang solihin)
PESAN VIA FB DI SINI
sering dari zmz/email yg masuk beberapa kali menanyakan bagaimana cara download bios flash bios tanpa menggunakan evrom dan flash bios dengan ezp2010
caranya sederhana langsung saja:
flash bios tanpa evrom programer pada merek-merek tertentu seperti:
acer : langkahnya tekan tombol power bersamaan dengan menekan fn-esc
compaq: langkahnnya tekan tombol vower bersammaan dengan menekan tombol keyboard windows-B
toshiba: langkahnya tekan tombol vower bersamaan dengan menekan tombol ctrl – alt – u
NB:setelah langkah berjalan tunggu sampai lampu indikator berkedip dan otomatis laptop akan restar sendiri
apabila langkah di atas belum bisa memperbaiki maslah pada laptop
sekarang lakukan langkah plasing bios dengan evrom programer 2010
FLASING BIOS
1.download dulu file biosnya baik dari situs resmi maupun blog2 yang menyediakan file bios berbentuk rom/bin
2.pada saat browsing di google gunakan kata kunci seperti(download bios acer 4732z bin)
3.setelah ic bios terpasang pada alat evrom lakukan langkah2 seperti pada gambar di bawah ini
4.UNTUK DOWNLOAD FILE – FILE BIOS LAPTOP/NETBOOK DI SINI
NB: pencabutan ic bios terlebih dahulu harus melepas batrai cmos 
KETERANGAN LEBIH LANJUT LIHAT CONTOH GAMBAR CARA PLASH BIOS DENGAN EZP2010 DI BAWAH INI

 

 

 

Siapa Perampok ?

Sewaktu perampokan di Guangzhou, China, perampok bank berteriak kesemua orang di bank: “Jangan Bergerak. Uang ini Milik Negara, Hidupmu milikmu.” Semua orang di bank menunduk dengan tenang. Ini yang disebut “Konsep Merubah Pikiran” Merubah cara berpikir yang konvensional.

Ketika seorang wanita berbaring di meja secara profokatif, perampok berteriak padanya “Beradablah, Ini perampokan, bukan pemerkosaan!” Ini yang disebut “Professional” fokus hanya kepada apa yang kamu dilatih untuk..

Ketika Perampok kembali kerumah, perampok yang lebih muda (lulusan s2) berkata kepada perampok yang tua (lulusan sd): “Bang, ayo kita hitung berapa yang kita dapat.” Perampok yang lebih tua bilang “Bego banget lo. Duitnya banyak gitu lama pasti ngitungnya. Malem ini lihat aja di TV bakal bilang berapa yang kita rampok dari bank!” Ini yang disebut “Pengalaman.” Sekarang pengalaman lebih penting dari gelar..!

Setelah perampok pergi, manajer bank bilang pada supervisor bank untuk menelpon polisi secepatnya. Tetapi supervisor berkata: “Tunggu! Ayo kita ambil $10juta dollar dari bank untuk kita dan tambahkan ke $70juta dollar yang sudah diambil dari bank”.

Ini yang disebut “Sambil Berenang Minum Air.” Merubah keadaan tak baik menjadi keuntungan anda!

Supervisor berkata: ” Akan sangat bagus bila ada perampokan setiap bulan.”

Ini yang disebut “Membunuh Kebosanan” Kebahagiaan personal lebih penting dari pekerjaan anda.

Keesokan harinya, Berita TV melaporkan bahwa $100juta telah dicuri dari bank. Perampok menghitung dan menghitung, tetapi mereka hanya dapat $20juta dollar. Perampok sangat marah dan komplain “Kita meresikokan hidup kita dan hanya dapat $20juta dollar. Pekerja Bank mengambil $80juta dollar dengan santai. Sepertinya mendingan menjadi teredukasi daripada perampok!”

Ini yang disebut “Pengetahuan bernilai lebih banyak dari emas” Manajer bank tersenyum dan bahagia karena kekalahan di main saham dapat di bayarkan oleh perampokan yang terjadi. Ini yang disebut “Mengambil kesempatan.” Berani mengambil resiko!

Jadi siapakah pencuri Sejati dan lebih professional disini?

sumber : kaskus.co.id/spotlite dan Family Guide Indonesia

Oleh: Dahlan Iskan

SIKAP terbaik yang harus diteguhkan saat ini adalah: mengakui dan menyadari bahwa keadaan ekonomi kita memang sulit. Tidak perlu menutupi. Lebih-lebih tidak perlu menolak keadaan yang memang sulit itu. Jangan punya sikap, yang di dunia kedokteran disebut denial. Tidak boleh sebagian dari kita mengatakan sulit, tapi sebagian lagi mengatakan kita ini tidak sulit.

Menjalani fase mengakui kesulitan itu kadang tidak mudah. Seperti orang yang didiagnosis terkena penyakit jiwa, umumnya menolak dikatakan sakit jiwa. Atau sakit kanker. Atau sakit apa pun. Kian kuat penolakan itu, kian sulit upaya penyembuhannya.

Tapi, datangnya fase penolakan itu sangat wajar. Terjadi hampir pada siapa saja. Hanya, sebaiknya fase denial itu jangan lama-lama. Agar tidak terjadi konflik antaranggota keluarga.

Tidak perlu bertengkar mengapa terkena penyakit. Siapa yang mengakibatkan sakit. Dari mana datangnya sakit. Apalagi kalau sampai ada kesimpulan bahwa sakit itu karena disantet.

Fokus utama bisa langsung bagaimana segera mengobatinya. Itu pun belum tentu bisa segera sembuh. Apalagi kalau tidak segera diobati. Lebih-lebih bila tidak segera tahu bagaimana cara mengobatinya, siapa dokternya, siapa perawatnya, dan seterusnya.

Setelah fase denial dilewati, sebaiknya segera tentukan sikap: yang pernah berkampanye dengan janji-janji tinggi tidak perlu terus mengingat janji itu. Tidak perlu bersikap harus ngotot akan melaksanakannya. Keadaan memang sudah tidak memungkinkan.

Presiden George Bush dalam kampanye pencalonannya dulu selalu menegaskan akan memberikan perhatian khusus kepada Amerika Latin. Maklum, dia dari Texas yang berbatasan langsung dengan Meksiko. Setelah terpilih, ternyata fokusnya tetap ke negara-negara Arab, sebagaimana pendahulunya. Bahkan, tidak sekali pun Bush sempat berkunjung ke salah satu negara Amerika Latin. Toh dia terpilih lagi.

Pihak yang dulu rajin mencatat janji-janji kampanye itu (dan berniat akan menagihnya) sebaiknya juga membatalkan niat itu. Bahkan tidak perlu membuka catatan itu. Apalagi menagihnya. Penagihan itu hanya akan mempersulit keadaan. Kepuasan bisa menagih janji itu tidak akan menghasilkan apa-apa. Hanya akan menimbulkan komplikasi. Bahkan komplikasi politik.

Padahal, kita semua tahu krisis ekonomi yang disertai komplikasi politik akan memperparah keadaan. Itu yang sedang dihadapi Malaysia saat ini. Kita sudah pernah merasakannya. Mestinya kita sudah kapok dengan keadaan seperti itu pada tahun 1998.

Kita harus berterima kasih karena dalam kesulitan ekonomi ini kubu oposisi tidak banyak mempersoalkan pemerintah. Meski penyebabnya mungkin karena Golkar pecah. Dan perpecahannya mungkin akan lebih lama daripada masa krisis ini.

Demikian juga PPP. Dua kubu dalam partai Islam ini bukanlah tipe yang mudah bersatu. Partai Islam satunya, PAN, bahkan sudah bergabung ke pemerintah. Hanya PKS yang masih solid. Bahkan kelihatannya kian solid. Hasil munas terakhir PKS mendapat apresiasi yang luar biasa di kalangan anak muda Islam.

Dengan gambaran itu, mestinya masa denial bisa segera kita lewati. Agar proses pengobatan krisis bisa efektif. Krisis ini tidak bisa diatasi hanya oleh pemerintah meski yang utama adalah pemerintah. Pengakuan pemerintah bahwa kita lagi sulit akan menimbulkan rasa simpati dan empati. Dari sini akan muncul saling membantu. Saling percaya. Krisis ini akan sulit diatasi kalau terjadi krisis kepercayaan. Atau kalau tidak ada rasa ketenangan dalam berusaha.

Tidak usahlah ada yang mengatakan bahwa ini belum krisis. Inflasi masih terkontrol. Harga tomat masih Rp1.000 per kg. Dan sebangsa itu. Fakta itu akan cepat berubah. Tiwas kita kehilangan waktu. Tidak perlu juga menyalahkan Amerika Serikat (AS), Korea, atau Tiongkok. Apalagi menyalahkan SBY segala. Itu hanya akan menambah sinyal bahwa kita, secara tidak sadar, masih berada di fase denial.

Kita syukuri ekonomi kita di masa lalu pernah tumbuh tinggi beberapa tahun. Sehingga kini kita lebih punya modal untuk memasuki masa sulit. Tapi, tidak perlu juga ada yang terlalu membanggakan masa-masa itu karena toh sudah lewat. Itulah masa ketika AS mengatasi krisis ekonominya yang berat pada 2008 dengan cara semena mena: mencetak uang dolar sebanyak-banyaknya!

Cara itu berhasil menggairahkan ekonomi AS (juga ekonomi dunia). Tapi juga berhasil meningkatkan utang luar negeri yang fantastis di banyak negara! Termasuk Tiongkok. Angka-angka peningkatan utang luar negeri itu mengerikan. Dalam waktu singkat.

Mengapa AS mengatasi krisisnya dengan mencetak uang dolar sebanyak-banyaknya? Karena toh dolar itu akan beredar di luar negeri. Tidak akan punya dampak inflasi di dalam negeri AS sendiri. Coba kalau negara lain yang mencetak uang seperti itu. Misalnya kita. Ekonomi negara itu akan hancur karena inflasinya tidak terkendali. Tapi, karena dolar yang beredar di luar AS lebih besar daripada yang beredar di AS sendiri, pencetakan uang itu tidak merusak ekonomi AS.

Itulah untungnya mata uang dolar menjadi mata uang dunia. Ia bisa digunakan dengan mudah untuk menyehatkan ekonominya sekaligus mengendalikan ekonomi negara lain.

Tahun lalu, ketika AS merasa tujuan mengatasi krisisnya sudah selesai, dimulailah rencana mengetatkan dolar. Dan akan terus diketatkan lagi pada tahun-tahun mendatang. Agar tidak memukul ekonomi AS.

Peredaran dolar yang berlebih untuk masa yang terlalu lama pada akhirnya akan membahayakan AS. Proses pengetatan dolar itulah yang menjadi wabah penyakit sekarang ini. Maka kita akui saja ekonomi kita lagi sulit dan akan sulit.

Segeralah kita akhiri masa denial. Lalu kita lakukan apa yang harus kita lakukan. (*)

sumber : http://www.radarbanyumas.co.*id

Egois Dua Tahun untuk Mendung Tebal
Oleh: Dahlan Iskan

Selama seminggu kemarin, tiga kali saya diminta berceramah oleh perusahaan besar yang sedang mengumpulkan manajer mereka.
Tema besarnya: Apa yang harus dilakukan di saat yang sulit seperti ini?

Saya bilang, saya bukanlah ahli di bidang itu. Tapi, tiga kali berhasil melewati krisis (1988, 1998, dan 2008) membuat saya belajar banyak. Pada 1988, kebijakan uang ketat sangat memukul ekonomi. Pada 1998, krisis moneter menghancurkan banyak hal, termasuk kekuasaan negara. Pada 2008, ekonomi negara sebesar AS kelimpungan.

Yang sudah pasti: Semua itu tidak bisa diatasi dengan hanya ngomong doang. Karena itu, jangan mengeluh terus, jangan marah-marah, jangan menyalahkan siapa pun, dan jangan pula punya mental denial. Cukuplah itu diwakilkan kepada politisi.

Misalnya, ada manajer perusahaan yang mengajukan persoalan begini: Kok harga BBM nonsubsidi kita 50 persen lebih mahal daripada Singapura? Rupanya, perusahaan itu memerlukan bahan bakar minyak (BBM) yang sangat besar. Tiap hari. Itu, katanya, memberatkan perusahaannya.

Apalagi dalam situasi sulit seperti ini. Kok pemerintah membiarkan hal itu terjadi. Kebijakan tersebut membuat dia tidak bisa bersaing. Terutama dengan perusahaan luar negeri.

Karena itu, saya sarankan tidak perlu memperpanjang keluhan. Berjuang ke pemerintah pun belum tentu bisa berhasil. Tiwas kehabisan tenaga dan waktu. Saya lebih menyarankan begini: cari beberapa teman yang juga memerlukan banyak BBM.

Imporlah sendiri! Kalau selisih harganya benar-benar 50 persen, untuk apa tidak memberontak? Saya lihat, perusahaan itu mempunyai kemampuan untuk melaksanakannya. Bahkan, keluhan tersebut mungkin justru bisa jadi bisnis barunya.

Mungkin memang harus membangun tangki atau menyewanya. Tapi, bukankah saat ini lagi rendah-rendahnya harga baja? Bagi perusahaan yang masih punya uang, membangun bisnis baru saat ini adalah yang terbaik. Mumpung semuanya lagi tertekan. Dua tahun lagi, ketika ekonomi mulai baik, perusahaan barunya mulai berjalan.

Yang sulit adalah mereka yang membangun bisnis baru dua tahun lalu. Saat investasi dulu, semuanya lagi mahal. Ketika pabriknya selesai dibangun sekarang ini, ekonomi lagi susah.

Kesulitannya berlipat-lipat: harus menjalankan perusahaan baru, harus mengembalikan modal, dan harus membayar utang. Sedang perusahaan baru itu belum mendapat pasar.

Pada saat sulit seperti ini, orang-orang di lapangan biasanya lebih tepat untuk diajak bicara: untuk menemukan jalan keluar, mencari terobosan, melahirkan ide, dan mencari cara menghemat.

Inilah waktunya direksi sebuah perusahaan harus lebih banyak mendengar para manajer mereka di garis depan. Inilah saatnya direksi sebuah perusahaan berhenti berpidato.

Tidak ada gunanya berpidato. Hasilnya nol. Juga harus berhenti memberikan petunjuk. Berhenti marah. Berhenti mengandalkan gengsi dan tinggi hati. Inilah waktunya untuk lebih banyak mendengarkan.

Dengan sikap rendah hati dan pikiran terbuka. Untuk menerima usulan-usulan cerdas dari ujung tombak. Terutama ujung tombak yang muda-muda. Yang umurnya 27-35 tahun.

Inilah saatnya semua perusahaan hanya memikirkan nasibnya sendiri-sendiri. Tidak ada gunanya memikirkan orang lain. Ini kelihatannya egois. Tapi, hanya sikap egois yang bisa menyelamatkan perusahaan masing-masing. Berhentilah bersandar pada orang lain. Termasuk bersandar pada pemerintah.

Saya membayangkan, kalau sebagian besar perusahaan di Indonesia ngotot menyelamatkan perusahaan masing-masing, akan banyak perusahaan yang selamat. Bahkan maju. Kalau sebagian besar perusahaan selamat, berarti ekonomi kita selamat.

Jangan ada pikiran kalau A bersaing dengan B, maka salah satunya akan kalah. Tidak begitu. Bisa-bisa dua-duanya menang. Yang kalah mungkin C. Kalau C pun melawan, yang kalah mungkin D.

Kalau semua perusahaan di dalam negeri mulai A sampai Z saling melawan, bisa jadi ekonomi nasional yang menang.

Kita menghadapi setidaknya dua tahun yang sangat berat. Tapi, percayalah, mendung tebal tidak akan menggelayut di satu tempat terus-menerus. (*)

sumber : http://www.radarbanyumas.co.*id

Ini gara2 eror FO ……………..

1. Liat dulu dapet ga mikrotiknya ….

2. Kalo ga dapet berarti masalah di Speedy nya

3. Kalo dapet (kaya di gbr) tapi di client kok ga konek ya berarti masalah di Mikrotik ato di client nya

Keluar dari Zona Nyaman

                                  Prof Rhenald Kasali
@Rhenald_Kasali

Mungkin inilah yang tidak banyak dimiliki SDM kita: kemampuan untuk keluar dari zona nyaman. Tanpa keterampilan itu, perusahaan-perusahaan Indonesia akan “stuck in the middle,” birokrasi kita sulit “diajak berdansa” menjelajahi dunia baru yang penuh perubahan, dan kaum muda sulit memimpin pembaharuan.

Tidak hanya itu, orang-orang tua juga kesulitan mendidik anak-anaknya agar tabah menghadapi kesulitan. Dengan memberikan pendidikan formal yang cukup atau kehidupan yang nyaman tak berarti mereka menjadi manusia yang terlatih menghadapi perubahan. Apa artinya bergelar S2 kalau penakut, jaringannya terbatas, “lembek”, cepat menyerah dan gemar menyangkal.

Tetapi maaf, ketidakmampuan keluar dari zona nyaman ini bukanlah monopoli kaum muda. Orang-orang tua yang hidupnya mapan dan merasa sudah pandai pun terperangkap di sana. Seperti apakah gejala-gejalanya?

“Saya Pikir…”

“Saya pikir hidup yang nyaman, terlindungi, tercukupi adalah hidup yang aman”, begitu pemikiran banyak orang.

Kita berpikir, apa-apa yang kita kerjakan dan membuat kita mahir sehari-hari sudah final. Dengan cara seperti itu maka kita akan melakukan hal yang sama berulang-ulang sepanjang hari, melewati jalan atau cara-cara yang sama sepanjang tahun.

Padahal segala sesuatu selalu berubah. Ilmu pengetahuan baru selalu bermunculan dan saling menghancurkan. Teknologi baru berdatangan menuntut ketrampilan baru. Demikian juga peraturan dan undang-undang. Pemimpin dan generasi baru juga mengubah kebiasaan dan cara pandang. Ketika satu elemen berubah, semua kebiasaan, struktur, pola, budaya kerja dan cara pengambilan keputusan ikut berubah. Ilmu, keterampilan dan kebiasaan kita pun menjadi cepat usang.

Jalan-jalan yang nyaman kita lewati juga cepat berubah menjadi amat crowded dan macet, sementara selalu saja ada jalan-jalan baru.

Orang-orang yang terperangkap dalam zona nyaman biasanya takut mencari jalan, tersasar atau tersesat di jalan buntu. Padahal solusinya mudah sekali: putar arah saja, bedakan a dead end dengan detour.

Kalau bisa dikoreksi, mengapa konsep yang bagus dan sudah besar sunk cost-nya harus diberangus dan dikutuk habis-habisan? Bukankah kita bisa mengoreksi bagian-bagian yang salah? Orang-orang yang tak terbiasa keluar-masuk dari zona nyaman punya kecenderungan mengutuk jalan buntu karena ia merasa tersesat di sana. Ilmuwan saja, kalau kurang up to date sering melakukan hal itu, padahal orang biasa yang terlatih keluar dari zona nyaman bisa melihat jalan keluar.

Ada rangkaian sirkuit dalam otak kita yang membentuk jalur tetap, sehingga program diri dikuasa autopilot. Akibatnya, tanpa berpikir pun kita akan sampai di tempat tujuan yang sama dengan yang kemarin kita tempuh. Dan ketika kita keluar dari jalur itu, ada semacam inersia yang menarik kita kembali pada jalur yang sudah kita kenal.

Kata orang bijak, keajaiban jarang terjadi pada mereka yang tak pernah keluar dari “selimut rasa nyamannya.” Keajaiban itu hanya ada di luar zona nyaman yang kita sebut sebagai zona berbahaya (a danger zone). Zona berbahaya ini seringkali juga dinamakan sebagai zona kepanikan (panic zone). Tetapi untuk menghindari kepanikan, para penjelajah kehidupan telah menunjukkan adanya zona antara, yaitu zona belajar (learning zone atau challenge zone).

Karena itulah, belajar tak boleh ada tamatnya. Sekolah pada lembaga formal bisa menyesatkan kalau beranggapan selesai begitu gelar dan ijazah didapat. Apalagi bila kemudian memunculkan sikap arogansi “saya sudah tahu” atau “mahatahu” tentang sesuatu hal.

Saya sering membaca tulisan para ilmuwan yang memberikan tekanan pada ijazahnya (yang memberi gelar) saat menggugat sebuah pendapat atau konsep. Tentang hal ini saya hanya bergumam, mereka kurang terbuka, kurang mampu melihat perspektif, tak kurang mau belajar lagi. Learning itu gabungan dari relearn dan unlearn. Orang yang terbelenggu dalam zona nyaman kesulitan untuk belajar lagi dan membuang pandangan-pandangan lamanya. Ia menjadi amat resisten dan keras kepala.

Manusia belajar sepanjang masa melewati ujian demi ujian. Dan itu meletihkan, bahkan kadang menakutkan, melewati proses kesalahan dan kegagalan, menemui jalan buntu dan aneka krisis, kurang tidur.

Kadang kita menemukan guru yang baik dan pandai, tapi kadang bertemu guru yang menjerumuskan dan menyesatkan. Tetapi mereka semua memberikan pembelajaran.

Jadi bagaimana gejala orang yang kesulitan “keluar-masuk” zona nyaman? Saya kira Anda sudah bisa melakukan introspeksi.

Hidup itu memang terdiri dari proses keluar-masuk. Kalau sudah nyaman, ingatlah jalan ini akan crowded dan kelak menjadi kurang nyaman. Jangankan melewati jalan raya, karier kita pun akan menjadi usang kalau tak berubah haluan memperbaharui diri. Perusahaan lebih senang mendapatkan kaum muda yang masih bisa dibentuk ketimbang kita yang lebih tua tapi sudah tak mau belajar lagi, keras kepala pula.

Kalau kita berani melewati jalan tak nyaman, lambat laun kita pun bisa meraih kemahiran. Kalau sudah mahir dan nyaman, jangan lupa cari jalan baru lagi. Seorang climber, kata Paul Stoltz terus mencari tantangan baru. Ia bukanlah a quiter atau a camper.

Siapa yang tak ingin hidup mapan dan nyaman? Kita bekerja keras untuk meraih kenyamanan dan ketenangan hidup, tetapi para ahli mengingatkan itu semua hanyalah ilusi. Dalam zona nyaman tak ada kenyamanan, tak ada mukjizat selain mereka yang berani keluar dari selimut tidurnya.

Bagaimana Melatihnya?

Saya ingin mengatakan pada Anda, jangan terburu-buru mengatakan bahwa manusia dewasa tak bisa berubah. Pengalaman saya menemukan banyak orang dewasa yang bisa berubah. Yang tidak bisa berubah itu adalah manusia yang sudah final.

Manusia yang sudah final itu biasanya pikirannya kaku seperti orang mati dan merasa paling tahu. Tentang manusia yang arogan ini bukanlah tugas manusia untuk mengubahnya, biarkan saja Tuhan yang memberikan solusinya. Hanya lewat ujian beratlah mukjizat itu baru terjadi pada mereka.

Di Rumah Perubahan, kami biasa mendampingi dan memberikan pelatihan untuk keluar dari zona nyaman ini. Biasanya setelah dilatih mereka malah justru menjadi pembaharu yang progresif. Bahkan mereka menjadi teman para CEO yang sedang memimpin transformasi untuk menghadapi para pemimpin pemberontakan yang resisten terhadap perubahan, atau orang-orang arogan dan miskin perspektif, termasuk para senior yang sudah final karena gelarnya sudah panjang.

Lain kali saya akan jelaskan apa yang harus dilakukan orangtua dan guru untuk melatih anak-anaknya keluar dari zona nyaman.

Prof. Rhenald Kasali adalah Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Pria bergelar PhD dari University of Illinois ini juga banyak memiliki pengalaman dalam memimpin transformasi, di antaranya menjadi pansel KPK sebanyak 4 kali, dan menjadi praktisi manajemen. Ia mendirikan Rumah Perubahan, yang menjadi role model dari social business di kalangan para akademisi dan penggiat sosial yang didasari entrepreneurship dan kemandirian. Terakhir, buku yang ditulis berjudul Self Driving: Merubah Mental Passengers Menjadi Drivers

Sumber : Kompas.com Kolom Rhenald Kasali ….. Rumah Perubahan.