Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2012

KEHIDUPAN

Bingung untuk memulai dari mana. Banyak sekali kejadian yang tidak kita sadari tetapi membuat segalanya yang begitu tenang dan aman menjadi berantakan. Entah karena saudara, tetangga, anak, atasan dsb. Bagaimana dengan anda ?

Kok jadi serius banget pembukaannya….

Jadi gini tadi malem ada tetangga datang ke mertua terus dia cerita ada permasalahan. Biasa kalau di kampung gak jauh-jauh dari tanah. Dia cerita yang biasanya sama dia orangnya is ok kok sekarang jadi agak lain. Terus hidupnya yang adem ayem kok dalem satu hari bisa berantakan dan mengalami segala hal yang gak mengenakan hati ini.

Inilah kehidupan ketika anda mengalami masa damai dan menikmai hidup maka akan ada permasalahan yang terjadi mungkin dengan tiba-tiba atau sesuai dengan aturannya. Segala segi pasti ada resikonya, kecil besar agak kecil dan agak besar.

Kadang kita merasa kecewa dengan orang yang kita anggap sebagai panutan karena tindak tanduk dia kok gak seperti yang kita inginkan. Teman dekat kita kadang mengecewakan kita, jangankan itu semua kadang orang tua kita juga mengecewakan kita bahkan pasangan kita.

Dalam kehidupan kadang kita harus melupakan kebaikan kita ke orang lain, tetapi ingat2 lah kebaikan orang lain terhadap diri kita. Kadang kita berbuat baik karena dorongan ingin di mata para teman dan tetangga biar dianggap baik jadi bingung sendiri.

Terus aku bagaimana >??????????????????????????????

Nih tulisan gak enak banget, baik salah gak baik tambah salah … maunya apa sih …………………………

Intinya aku mau nglakuin ini dan itu selama aku tidak melanggar agama yang aku yakini maka aku gak peduli dengan pandangan orang ……………………………………………….. mantap to….

(gedebus)

Read Full Post »

ISLAMISASI DAN MASYARAKAT PASAR: Sufisme dan Sejarah Sosial Kota Sokaraja


Oleh: Luthfi Makhasin
Anggota Forum Lafadl, Faculty of Asian Studies (Southeast Asian Studies)
The Australian National University
Canberra-ACT, Australia

Menjelaskan sejarah sosial sebuah kota kecil dengan segala dinamika sosialnya selama rentang waktu  kurang lebih 175 tahun bukanlah pekerjaan yang ringan, jika bukan malah sebuah kemustahilan. Referensi dan data tentu saja adalah persoalan berat yang harus dipecahkan untuk bisa memberikan analisa komprehensif tentangnya. Di sisi lain, pilihan metode etnografis juga membawa persoalan sendiri karena keasyikan memberikan “thick description” seringkali melenakan keperluan untuk berjaga dan memberikan analisis kritis terhadap objek pengamatan.

Studi ini adalah sebuah ikhtiar untuk memberikan penjelasan tentang kaitan erat antara institusi dan pandangan keagamaan dalam turut membentuk perubahan sosial ekonomi masyarakat. Dengan mengambil kasus gerakan tarekat, studi ini ingin membangun argumen bahwa agama bukan hanya merupakan ekspresi kesolehan personal tapi juga mencerminkan prestis cultural, status sosial dan pembedaan berbasis kelas dari para penganutnya. Disamping itu, agama membentuk kesadaran, kontruksi kognitif, dan juga sumber referensi tindakan individual dan kolektif dalam berhubungan dengan dunia material dan sosial.

Geertz dan Tesis Modjokuto Revisited: Sebuah Penafsiran (yang lain)

Upaya untuk memberikan penjelasan tentang kaitan erat antara spiritualitas dengan perkembangan dunia material adalah satu bidang yang bisa dikatakan sudah usang, tapi dengan relevansi yang sebenarnya bisa terus-menerus terbarui. Komodifikasi sosial yang dibawa oleh pasar ternyata  tidak mengurangi peran agama dalam masyarakat, jika bukan malah memperkuatnya.

Karya monumental Weber dalam The Protestant Ethic berangkat dari tesis tentang peran ide dalam turut membentuk perubahan sosial dan dinamika material. Karya lanjutnya dalam sosiologi agama memperkuat tesis dasarnya bahwa hanya reformasi protestanlah yang mampu menciptakan asketisme duniawi sebagai conditio sin qua non bagi berkembangnya rasionalitas instrumental ekonomi pasar kapitalistik. Berbeda dengan Protestanisme, karya perbandingannya tentang Islam dipenuhi oleh sikap skeptiknya tentang kemampuan Islam untuk menumbuhkan rasionalitas instrumental dan orientasi keduniawian bagi para pengikutnya. Menurutnya, Islam yang dipenuhi ajaran sufistik dan orientasi petualangan para warrior penyebar Islam mencegahnya untuk menumbuhkan asketisme duniawi sebagaimana yang terjadi di Kristen.

Meskipun Geertz meminjam analisis Weber untuk menjelaskan perubahan sosial di Modjokuto, dia merevisi tesis Weber sekaligus memperkuatnya. Di satu sisi, Geertz tidak sepakat dengan Weber dan segala bias stereotyping yang terkandung dalam analisisnya tentang Islam. Di sisi lain, dia justru makin meneguhkan analisis Weber tentang peran rasionalitas instrumental sebagai syarat tumbuhnya semangat kewirausahaan dan perubahan sosial-ekonomi. Seperti halnya kasus gerakan Protestanisme yang diamati Weber, Geertz memberi apresiasi besar terhadap pengaruh reformasi Islam yang sedang tumbuh subur di Indonesia masa 1950-an dalam mendorong tumbuhnya sikap rasional di kalangan pengusaha Muslim perkotaan. Dalam analisisnya tentang perkembangan masyarakat urban di Modjokuto, Geertz mengamati proses transformasi sosial yang ditimbulkan oleh usaha sistematis kalangan pengusaha Muslim perkotaan untuk menciptakan bisnis yang efisien dan akumulasi modal. Terlepas dari empati personalnya terhadap proses perubahan itu, perangkat teori modernisasi yang dipakainya justru cenderung melemahkan dan mensimplifikasi proses yang sedang terjadi. Inilah yang membuat analisis orisinalnya tentang Jawa menyimpan paradoks.

Sementara dia mengakui kemelekatan ekonomi pasar dalam sistem sosio-kultural yang lebih luas, Geertz juga percaya bahwa ide tentang pasar, sistem pertukaran, dan profit-making adalah sesuatu yang pada dasarnya asing bagi orang Jawa. Sementara dia menginsyafi bahwa perdagangan sedang tumbuh berkembang menjadi bagian integral dalam struktur ekonomi pribumi, Geertz juga percaya bahwa pertanian adalah mode produksi utama orang Jawa. Motif ideologis dari pengambilan kesimpulan semacam itu adalah di luar skup tulisan ini. Yang ingin penulis kemukakan adalah bahwa penjelasan bagi paradoks ini sebenarnya bisa dilacak dari kerangka argumennya yang lain tentang peran birokrasi dalam menciptakan ekonomi pasar yang rasionalistik.

Dalam kerangka Weberian, institusi legal-rasional adalah determinan lain yang sangat penting bagi munculnya ekonomi kapitalistik. Institusi legal-rasional ini penting untuk menopang institusi pasar supaya berfungsi dengan baik. Dia berfungsi untuk menjamin terlaksananya perjanjian kontrak jual-beli, melindungi hak milik, menyediakan fasilitas publik, dan memberi hukuman bagi mereka yang melanggar aturan main ekonomi pasar. Lebih dari itu, institusi legal-rasional adalah produk agregat dari rasionalitas individual. Kerangka ini mengandaikan sebuah proses perubahan yang linier dari rasionalitas individu ke institusi legal-rasional. Rasionalitas individu membentuk rasionalitas kolektif dan rasionalitas kolektif tercermin dalam rasionalitas institusi politik dan birokrasi (baca: negara) untuk menelurkan kebijakan-kebijakan yang mendukung berfungsinya institusi pasar. Linieritas ini juga terlihat dari ramalannya tentang Indonesia masa depan. Baginya, rasionalitas individual dan institusional adalah prasyarat bagi apa yang dinamakan modernisasi.

Ironisnya, temuan etnografis Geertz justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Di satu sisi, gerakan reformasi Islam memang punya akar yang sangat kuat di kalangan usahawan pribumi perkotaan, sementara di sisi lain, birokrasi justru berkutat pada friksi politik berbasis aliran. Ini membuat birokrasi gagal mengemban fungsi idealnya sebagai penopang institusi pasar dan oleh karena itu juga bagi terlembaganya sistem ekonomi kapitalistik di Indonesia. Dengan kata lain, elaborasi Geertz tentang subkultur priyayi berangkat dari satu kesimpulan bahwa lembaga birokrasi di Indonesia lebih berorientasi pada pemapanan status daripada menopang institusi pasar untuk bekerja optimal.

Terlepas dari berbagai kelemahannya, Geertz dkk. membuka salah satu tabir gelap yang menutupi Indonesia dan selama beberapa dekade menjadi lahan penyelidikan tak berkesudahan ahli-ahli filologi dan sosiolog Belanda. Untuk Geertz secara pribadi, penyelidikan etnografisnya di Modjokuto menjadi batu loncatan penting bagi pengukuhannya sebagai salah satu pendiri mazhab tersendiri dalam studi antropologi. Dalam kata pengantarnya untuk Agricultural Involution, ekonom terkemuka Benjamin Higgins mengemukakan bahwa temuan Geertz dan kawan-kawan membantu mempermudah kerja para ekonom yang konsen dengan persoalan pembangunan di Indonesia . Dalam konteks yang lebih luas, keseluruhan karya Modjokuto menjadi landasan penting bagi preskripsi pembangunan Indonesia masa Orba yang menekankan pada peran dominan modernizing elites dalam perubahan sosial.

 

Sekilas tentang Sokaraja

            Sokaraja adalah sebuah kota kecil, sekitar 9 kilometer arah tenggara kota Purwokerto, Banyumas. Orang mengenal kota ini sebagai pusat jajanan khas Banyumasan, kripik dan getuk goreng. Sejak pertengahan 80-an, kota ini memang sudah kadung lekat dengan julukan sebagai kota kripik dan kota getuk. Nyatanya, julukan ini memang tidak berlebihan karena sepanjang jalan protol 1,5 kilometer yang membelah kota ini ke arah barat dan timur, berjejer puluhan kios dengan papan nama mencolok yang menawarkan merek dagangnya masing-masing. Setiap malam akhir pekan, akan banyak dijumpai puluhan bis antar kota dan mobil pribadi yang berjejer di sepanjang pinggir jalan, menunggu penumpangnya yang sedang berbelanja buah tangan jajanan khas ini.

Sokaraja dibelah oleh aliran sungai (Kali Pelus) tepat di tengah, yang memisahkan kota ini menjadi wilayah utara (Sokara lor kali) dan selatan (Sokaraja kidul kali). Desa Sokaraja Lor dan Sokaraja Wetan di sebelah utara Kali Pelus lebih bercorak pertanian daripada desa Sokaraja Kidul, Tengah dan Kulon di selatan yang lebih bercorak kota . Pusat industri dan perdagangannya memusat di sepanjang empat ruas protokol jalan yang menghubungkan Sokaraja dengan kota-kota lainnya dan wilayah pemukimannya berhimpitan tepat di belalakang jejeran toko/kios. Sementara, lahan persawahan membentuk lingkaran terluar yang mengelilingi kota Sokaraja di delapan penjuru mata angin.

Sokaraja adalah pusat pemukiman urban dan komersil pertama yang berkembang di wilayah Banyumas. Kota ini adalah distrik pertama yang mendapat suntikan modal Belanda pada waktu awal diberlakukannya tanam paksa (1840-1870). Konon cerita, dipilihnya Sokaraja banyak dipengaruhi oleh kolaborasi penguasa lokal Sokaraja saat  itu (Tumenggung Jayadireja) dengan kumpeni Belanda pada saat Perang Diponegoro (1825-1830). Selagi daerah lain belum lagi beranjak dari isolasi geografis dan pertanian subsisten, Sokaraja sudah mendapatkan limpahan pembangunan fisik seperti jalan kereta api, jembatan, pasar, saluran irigasi, dan jalan raya. Singkatnya, gula menjadi mode ekonomi dominan di wilayah ini sampai dengan kebangkrutannya setelah depresi dunia akhir tahun 1920-an. Bangunan tua lapuk Pabrik Gula Kalibagor (500 meter selatan kota) yang berdiri sejak 1839 adalah saksi bisu kejayaan gula dalam ekonomi local Sokaraja selama rentang satu abad.

Bagi orang luar, Sokaraja boleh jadi memang kadung lekat dengan getuk dan kripik. Tapi bagi penduduk asli, Sokaraja punya lebih banyak warna-warni sejarah dengan julukan yang berbeda-beda untuk tiap masa. Berbagai julukan itu menjadi pertanda aktivitas ekonomi yang berubah. Antara 1930-1960, Sokaraja dikenal sebagai kota batik. Dari awal Orba sampai akhir 80-an, kota ini dikenal dengan julukan kota lukisan dan kota keramik. Getuk goreng dan kripik hanya menandai perkembangan terbaru kegiatan ekonomi penduduknya. Entah julukan apa lagi yang akan muncul setelah ini.

Kalaupun ada yang tidak berubah dari Sokaraja, itu karena dari dulu sampai sekarang orang mengenal kota ini sebagai kota santri. Kota kecil berpenduduk lebih kurang 22 ribu seluas kurang lebih 831 hektar ini memiliki 7 buah pesantren, 3 di Sokaraja Lor, 3 di Sokaraja Kulon, dan 1 di Sokaraja Tengah. Pesantren tertua di kota ini, Pesantren Assuniyah Kebonkapol di Sokaraja Lor didirikan oleh Syekh Imam Rozi pada tahun 1830-an. Ke arah timur, tidak jauh dari Pesantren Assuniyah, ada pesantren besar khusus untuk pengikut tarekat, namanya Pondok Pesulukan Naqsabandi. Pesantren ini juga dinamakan Pondok Peguron. Pada bulan Rajab, Maulud dan Ramadhan, Pondok Peguron akan dibanjiri ribuan pengikut tarekat Naqsabandi dari seluruh Indonesia yang mengikuti ritual suluk akbar.

Predikat sebagai kota santri ada hubungannya dengan sejarah gerakan Islam dan ketokohan beberapa kyainya. Sejak awal 1930-an, Sokaraja menjadi tempat kedudukan konsul tetap NU yang membawahi wilayah kerja Banyumas, Jogja, dan Kedu.[1] Melalui NU-lah, Sokaraja berkembang menjadi pusat perlawanan gerakan kyai menentang penjajahan Belanda dan Jepang. Menurut beberapa sumber lokal, gerakan perlawanan kyai ini merupakan bagian dari gerakan Mabadi Khoiro Ummah yang sudah dirintis oleh NU sejak awal 1930-an. Gerakan ini mencakup banyak kegiatan seperti pengajian rutin, pengumpulan dana perjuangan, pendirian madrasah, sampai dengan penggemblengan fisik untuk para pemuda.[2]

Pada masa Jepang, gerakan perlawanan bawah tanah (non-cooperatie) ini berkembang menjadi gerakan cooperatie dengan penguasa pendudukan. Kyai Raden Mukhtar, konsul NU Banyumas misalnya, menjadi satu-satunya perwakilan NU di Syumuka (lembaga bentukan Jepang yang menyerupai lembaga kepenguluan masa Belanda di tingkat kabupaten) Dalam Guruku Orang-Orang Pesantren, Saifuddin Zuhri yang pernah menjadi tangan kanan Kyai Wahid Hasyim, menyinggung bahwa kerjasama ini merupakan bagian dari taktik baru yang ditempuh NU pasca penahanan Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari oleh Jepang pada tahun 1943. Pada hemat penulis, perubahan strategi dari non-kerja sama ke kerjasama ini merupakan upaya NU untuk mengikis dominasi kalangan modernis dalam lingkaran birokrasi kolonial dan sekaligus menciptakan basis kekuasaan untuk dirinya sendiri dalam struktur baru pasca kolonial.

Predikat sebagai kota santri untuk Sokaraja juga berasal dari ketokohan kyai-kyainya. Sampai saat ini, hampir semua kyai di Banyumas melacak genealogi pengetahuannya, langsung maupun tidak langsung, dari beberapa kyai sepuh di Sokaraja. Sokaraja menjadi tempat tinggal beberapa kyai generasi pertama di Banyumas yang mendapatkan pendidikannya dari pesantren-pesantren tua ternama seperti Termas, Bangkalan dan Lasem dan juga dari Arabia . Di samping itu, Sokaraja melahirkan kyai dari yang politisi, ahli fiqh, dan utamanya tarekat. Dari semuanya, barangkali tidak ada yang menyamai reputasi Kyai Saifuddin Zuhri yang pernah menjadi menteri agama era Soekarno akhir.

 

(more…)

Read Full Post »

PILIHAN HIDUP

Empat Contoh Pilihan setelah Krisis

Dahlan Iskan : Empat Contoh Pilihan setelah Krisis

Inilah empat contoh pertumbuhan ekonomi yang saya ambil dari orang-orang dekat saya:

Contoh I:
Dia insinyur lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB), yang begitu lulus melamar menjadi wartawan Jawa Pos. Prestasinya baik, sedikit di atas rata-rata. Karir terakhirnya sebagai jurnalis adalah redaktur ekonomi. Dia mampu membeli rumah, mobil, menyekolahkan anak di universitas swasta terbaik, dan akhirnya punya menantu orang Jerman. Rumahnya, meski tidak besar, empat unit. Tersebar di berbagai lokasi di Surabaya.

Hidup sehari-harinya sangat tertib. Mobil pertamanya, bekas, kelas 1000 cc dirawat dengan sangat baik: bersih, mulus, dan kalau parkir tidak pernah mencong sedikit pun. Baju yang dikenakannya tidak mahal, tapi selalu rapi. Wajahnya penuh senyuman. Tidak pernah terlihat merokok atau ikut hura-hura. Tidak punya bon di kantor dan tidak juga senang utang ke teman-teman kerjanya. Hampir tidak pernah sakit sehingga asuransi kesehatannya sering kembali menjadi tabungannya.

Kalaupun dia punya beberapa rumah, bukan karena gajinya sangat besar. Tapi, dia sangat menghitung sistem keuangan rumah tangganya. Ketika kali pertama beli rumah (cicilan), dia pilih lokasi yang masa depan lokasi itu harganya terus naik. Dia memang wartawan ekonomi yang kritis terhadap perhitungan keuangan. Ketika rumah di lokasi itu sudah sangat mahal, dia jual rumah itu. Sebagian untuk melunasi cicilan, sisanya dia jadikan uang muka untuk dua rumah: gajinya yang baru sudah cukup untuk mencicil dua rumah yang harganya masih murah.

Dua rumah itu juga dia pilih yang lokasinya baik sehingga harga masa depannya terus naik. Beberapa tahun kemudian harga rumah itu sudah sangat tinggi. Lalu, dia jual lagi. Hasilnya untuk melunasi cicilan dan jadi uang muka untuk empat rumah. Kini semuanya sudah lunas. Dia termasuk orang yang berpikiran jauh ketika membeli rumah. Selain untuk tempat tinggal, itu juga untuk investasi. Bukan seperti saya, ketika pertama beli rumah dulu: beli rumah dengan pikiran sangat tradisional, hanya untuk tempat tinggal. Waktu itu saya tidak pilih-pilih lokasi. Yang penting terjangkau. Sampai sekarang, setelah 30 tahun pun, harganya tidak seberapa naik. Maklum, sering kebanjiran.

Kini dia menjadi direktur utama di salah satu anak perusahaan Jawa Pos. Kalau saya renungkan, pertumbuhan ekonomi orang seperti dia kira-kira 15 persen setahun. Berarti jauh di atas pertumbuhan ekonomi negara yang sekitar 6 persen setahun itu. Tapi, orang seperti dia adalah orang yang sedikit ikut menikmati bubble (gelembung) ekonomi. Dia ikut menikmati kenaikan harga tanah yang panas bukan karena sinar matahari, tapi karena digoreng. Dia ikut mencicipi gorengan itu. Maka bisa dibayangkan berapa persen pertumbuhan ekonomi dari orang yang menggoreng.

Tanpa ada penggorengan, orang seperti dia juga tidak akan ikut menikmati. Jadi, kalau ada pertanyaan ke mana larinya uang-uang hasil penggelembungan ekonomi yang menyebabkan krisis itu, salah satu di antaranya jatuh kepada orang seperti anak buah saya itu. Tapi, dia hanya ikut menikmati sangat sedikit. Yang banyak adalah yang menggoreng itu. Penggorengan akan sangat sukses kalau dilakukan di kota besar. Kian besar sebuah kota, kian dahsyat penggorengannya. Kian banyak juga hasil gorengan yang dinikmati. Kian kecil sebuah kota, kian sedikit ikut menikmati.

Apakah orang seperti anak buah saya itu sudah tergolong rakus yang kemudian menyebabkan krisis ini?
***
Contoh II
Kemarin malam, jam 03.00 pagi, saya ke percetakan Jawa Pos. Melihat proses pengiriman koran kepada agen-agen. Kali ini bukan karena saya harus bekerja keras, melainkan kangen saja pada apa yang saya lakukan 20–25 tahun lalu. Saya ngobrol dengan orang yang kerjanya mengangkut koran.

Dia sudah bekerja sebagai pengangkut koran sejak 1986, sejak masih bujang dan sejak kantor Jawa Pos masih di Jalan Kembang Jepun. Waktu itu dia sopir bemo. Bemonya milik orang lain, dia kerja setoran. Dini hari bemonya untuk mengangkut koran, siangnya untuk angkut penumpang. Lima tahun kemudian dia bisa membeli mobil bekas, Hijet 1000. Dia mulai mengangkut koran dengan mobil milik sendiri.

Sepuluh tahun kerja angkut koran, dia bisa beli mobil lagi. Kali ini mobil baru, cicilan, Mitsubishi T1200. Maka dia mulai bisa menyewakan dua mobil untuk mengangkut koran. Hasil dua mobilnya itu bisa untuk membeli rumah, menghidupi rumah tangga, membeli sepeda motor, dan membeli sepeda pancal untuk anaknya yang sekolah di SMP.

Sepuluh tahun terakhir ini dia tidak bisa menambah armada. Hingga kemarin, Hijet 1000-nya yang sudah berumur 25 tahun itu masih beroperasi. Memang, bodinya sudah tidak asli lagi. Tapi, sebagai mobil, Hijet itu masih berjalan. Dia belum punya gambaran kapan bisa membeli mobil yang ketiga. Bahkan, sepeda motornya harus dijual untuk membantu adiknya berobat. Beban rumah tangga, naiknya beban hidup, dan adiknya yang sakit menyebabkan perjalanan 10 tahun terakhirnya tidak sebaik 10 tahun pertamanya.

Kalau saya perkirakan, pertumbuhan ekonomi rekan pengangkut koran ini mula-mula 6 persen setahun, kemudian menjadi 4 persen setahun. Kalau dirata-rata dalam 20 tahun kehidupannya, pertumbuhan rata-rata ekonominya adalah 5 persen setahun. Hampir sama dengan pertumbuhan ekonomi negara.

Dia termasuk yang tidak ikut menikmati ekonomi bubble atau ekonomi gorengan. Tapi, dia bisa ikut menikmati pertumbuhan ekonomi negara berkat kerja kerasnya. Meski pelan-pelan, ekonomi tetap naik. Sudah tentu tidak secepat yang dekat-dekat wajan penggorengan.
***
Contoh III
Saya punya seorang teman, yang mulai berusaha di Surabaya bersamaan dengan saya mulai memimpin Jawa Pos pada 1982. Dalam 25 tahun kemudian, kemajuan teman saya itu empat sampai delapan kali lipat kemajuan Jawa Pos.

Saya sering memikirkan mengapa perbedaan kemajuan itu bisa seperti bumi dan sumur. Tapi, saya tetap bersyukur bahwa perkembangan Jawa Pos bisa mencapai sekitar 30 persen per tahun, tanpa harus menjadi tukang goreng. Saya juga sering memuji teman saya itu sebagai pengusaha yang sangat sukses karena memang kerjanya luar biasa keras. Saya justru lebih sering iri kepada kemampuan kerja kerasnya daripada kemampuan meningkatkan kebesaran perusahaannya.
***
Contoh IV
Saya terkagum-kagum dengan teman saya yang lain. Sama-sama memulai usaha pada 1980-an, dalam waktu 10 tahun perkembangan perusahaannya luar biasa. Dialah yang paling hebat di antara teman-teman saya yang hebat. Bisnisnya tidak hanya tumbuh puluhan persen, tapi ribuan persen.

Saya lihat, dalam kehidupan sehari-harinya dia tidak pernah berhenti mikir bagaimana cara membesarkan perusahannya. Mulai taksi hingga oksigen. Mulai tanah sampai bank miliknya. Dia juga sangat rajin berolahraga, terutama renang. Saya pernah berutang nyawa kepadanya. Yakni, saat saya berenang di laut Pulau Lombok. Saya hampir tenggelam. Dia yang membawa saya ke pantai.

Tapi, dia hanya 10 tahun menikmati hasil kerjanya itu. Suatu saat ditemukan ada kanker di pangkreasnya. Dia down luar biasa. Lalu meninggal dunia, 15 tahun lalu. Dia tidak sempat menyaksikan krisis Asia pada 1997/1998 maupun krisis dunia 2007/2008.

DARI :

http://dahlaniskan.wordpress.com/2008/12/26/empat-contoh-pilihan-setelah-krisis/

Read Full Post »

Printer …

Ya banyak sekali service printer yang saya terima, tapi berakhir dengan kekecewaan. karena harus ganti catridge. Udah harga catridge lumayan belu m service nya . Kadang saya berfikir nih catridge kok sering banget rusak ya ?

Emang ga ada lagi yang bisa dibenerin dari catridge kayak gini ?….

Aku dah berusaha untuk bongkar catridge, dibersihin dalemnya, coba direndem air panas, gak mempan2.

Mumet, bingung dll ………………

Belum ada formula yang cocok untuk hal ini kayaknya, biasanya kalo kayak gini printer canon rajanya …. buat urusan catridge eror.

Read Full Post »

Sebenarnya bingung mau ngetik apa. La wong gak ada ide kalo di depan layar monitor. Tapi kok kalau di WC ato lagi mandi kok ya mikirnya banyak dan idenya brilian banget. apa ya harus bawa komputer ke kamar mandi ato wc? nanti malah dikira gak waras, orang aneh dsb.

Kaya temenku kemarin cerita perjalanan dari majenang udah sampe karang pucung, nah di POM bensin karang pucung di sempetin sholat dulu. Lagi sholat dia baru nyadar kalo tas kecilnya ketinggalan , diterima gak ya ?.

kadang pas kita lagi sendiri jongkok di wc ato lagi sholat sendiri sering kita asik melamun. apapun bisa dilamunin , kalo nemu duit 500jt, kalo artis korea jadi bininya, kalo punya mobil mercy, dll. Tapi kalo aku ada undangan buat tahlilan pasti pas baca ayat2  diawal udah pasti menguap. kayaknya udah kena sindrom setiap mau baca ayat kok langsung nguap ya, nah kalo denger khotib jumatan pasti bawaannya kok ngantuk banget ya … Ini salah yang denger apa salah yang bacanya ya …

Read Full Post »

Memasuki 2012 banyak sekali berita yang tidak mengenakan bagi kita-kita.

1. Pelaku yang diduga mencuri sandal jepit milik Polisi diadili.

2. Remaja kakak beradik tewas di Polsek …. . Katanya bunuh diri tetapi ada banyak bekas luka ditubuhnya.

3. Pencuri pisang diadili.

Anehnya berita ini sering terjadi, kenapa ?. Sepertinya orang yang punya jabatan ingin dihargai, ingin diketahui bahwa dia punya kuasa, bahwa dia bisa apa saja, dan dia harus selau benar. Malah akhirnya dia kebablasan. Hukum sudah menurut apa yang dia inginkan.

Saya pernah membaca juga (saya lupa dimana) ada tentara yang dipukuli oleh seniornya. Dia ingin dihargai, harus hormat kepada senior. Banyak sekali kejadian yang mengusung nama kedisiplinan dan dalam bidang hukum yang akhirnya malah membuat orang memanfaatkan jabatannya.

Ada lagi berita menarik :

1. Ruang toilet DPR mau direnovasi dengan biaya 1 milyar. Padahal baru satu tahun diperbaiki.

2. Gaji pegawai negeri akan naik menjadi 10 %

3. Utang Indonesia mencapai 1.800 Triliun.

Jadi kalau hidup di Indonesia jangan patah semangat. Walaupun wakil kita tidak memikirkan kita, walaupun pemerintahan kita tidak mengurus kita dengan apa yang dianjurkan Agama, bahkan membelokkannya, jangan patah semangat.

Roda pasti berputar, tahu Guru dulu tidak ada yang mau menjadi Guru, sekarang berapa ratus ribu orang kepengin menjadi Guru. Kalau dulu niat menjadi Guru karena mengabdi maka sekarang karena rejeki. Allah tahu apa yang terbaik, mungkin tidak sekarang, mungkin nanti mungkin juga tidak. Karena Allah tahu yang terbaik untuk kita.

Kadang bertanya pada diri sendiri, kenapa rejeki saya sedikit, setelah dipikir-pikir setiap kali mendapat rejeki aku sering melupakan yang memberi rejeki. Mungkin juga kalau saya menjadi Anggota DPR saya akan melakukan apa yang mereka lakukan. Kebanyakan komentar bukan dari rasa ingin memperbaiki tapi karena iri, ketika menjadi apa yang dia kritisi dia akan menjadi bagian yang dia kritisi.

Kenapa bisa begini ?

Bingung, Ngomong Apa aku ini, gak jelas, gundah ………………………….. ?

GRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR

Read Full Post »

FOTO DEPAN RUMAH

Habis liat-liat blog luar negeri yang nampilin foto-foto tentang kegiatan, dan suasana di sono. Jadi pengen masukin foto yang ada di depan rumah mertua indah. “-”

1. Ponakan diatas motorku

2. Rumah mertua indah (Kalicupak Lor, Kalibagor

3. Depan Rumah dah sawah

Kalo liat gini kayaknya asik ya. Tapi kalo disini yang ngejalanin ampun deh habis maghrib aja dah sepiiiiiii banget. Gak ada tukang mie, bakso apa jajanan lewat jadi kalo laper ya masak sendiri, dan lagi-lagi pasti masak mie .

Read Full Post »