Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2015

Siapa Perampok ?

Sewaktu perampokan di Guangzhou, China, perampok bank berteriak kesemua orang di bank: “Jangan Bergerak. Uang ini Milik Negara, Hidupmu milikmu.” Semua orang di bank menunduk dengan tenang. Ini yang disebut “Konsep Merubah Pikiran” Merubah cara berpikir yang konvensional.

Ketika seorang wanita berbaring di meja secara profokatif, perampok berteriak padanya “Beradablah, Ini perampokan, bukan pemerkosaan!” Ini yang disebut “Professional” fokus hanya kepada apa yang kamu dilatih untuk..

Ketika Perampok kembali kerumah, perampok yang lebih muda (lulusan s2) berkata kepada perampok yang tua (lulusan sd): “Bang, ayo kita hitung berapa yang kita dapat.” Perampok yang lebih tua bilang “Bego banget lo. Duitnya banyak gitu lama pasti ngitungnya. Malem ini lihat aja di TV bakal bilang berapa yang kita rampok dari bank!” Ini yang disebut “Pengalaman.” Sekarang pengalaman lebih penting dari gelar..!

Setelah perampok pergi, manajer bank bilang pada supervisor bank untuk menelpon polisi secepatnya. Tetapi supervisor berkata: “Tunggu! Ayo kita ambil $10juta dollar dari bank untuk kita dan tambahkan ke $70juta dollar yang sudah diambil dari bank”.

Ini yang disebut “Sambil Berenang Minum Air.” Merubah keadaan tak baik menjadi keuntungan anda!

Supervisor berkata: ” Akan sangat bagus bila ada perampokan setiap bulan.”

Ini yang disebut “Membunuh Kebosanan” Kebahagiaan personal lebih penting dari pekerjaan anda.

Keesokan harinya, Berita TV melaporkan bahwa $100juta telah dicuri dari bank. Perampok menghitung dan menghitung, tetapi mereka hanya dapat $20juta dollar. Perampok sangat marah dan komplain “Kita meresikokan hidup kita dan hanya dapat $20juta dollar. Pekerja Bank mengambil $80juta dollar dengan santai. Sepertinya mendingan menjadi teredukasi daripada perampok!”

Ini yang disebut “Pengetahuan bernilai lebih banyak dari emas” Manajer bank tersenyum dan bahagia karena kekalahan di main saham dapat di bayarkan oleh perampokan yang terjadi. Ini yang disebut “Mengambil kesempatan.” Berani mengambil resiko!

Jadi siapakah pencuri Sejati dan lebih professional disini?

sumber : kaskus.co.id/spotlite dan Family Guide Indonesia

Read Full Post »

Oleh: Dahlan Iskan

SIKAP terbaik yang harus diteguhkan saat ini adalah: mengakui dan menyadari bahwa keadaan ekonomi kita memang sulit. Tidak perlu menutupi. Lebih-lebih tidak perlu menolak keadaan yang memang sulit itu. Jangan punya sikap, yang di dunia kedokteran disebut denial. Tidak boleh sebagian dari kita mengatakan sulit, tapi sebagian lagi mengatakan kita ini tidak sulit.

Menjalani fase mengakui kesulitan itu kadang tidak mudah. Seperti orang yang didiagnosis terkena penyakit jiwa, umumnya menolak dikatakan sakit jiwa. Atau sakit kanker. Atau sakit apa pun. Kian kuat penolakan itu, kian sulit upaya penyembuhannya.

Tapi, datangnya fase penolakan itu sangat wajar. Terjadi hampir pada siapa saja. Hanya, sebaiknya fase denial itu jangan lama-lama. Agar tidak terjadi konflik antaranggota keluarga.

Tidak perlu bertengkar mengapa terkena penyakit. Siapa yang mengakibatkan sakit. Dari mana datangnya sakit. Apalagi kalau sampai ada kesimpulan bahwa sakit itu karena disantet.

Fokus utama bisa langsung bagaimana segera mengobatinya. Itu pun belum tentu bisa segera sembuh. Apalagi kalau tidak segera diobati. Lebih-lebih bila tidak segera tahu bagaimana cara mengobatinya, siapa dokternya, siapa perawatnya, dan seterusnya.

Setelah fase denial dilewati, sebaiknya segera tentukan sikap: yang pernah berkampanye dengan janji-janji tinggi tidak perlu terus mengingat janji itu. Tidak perlu bersikap harus ngotot akan melaksanakannya. Keadaan memang sudah tidak memungkinkan.

Presiden George Bush dalam kampanye pencalonannya dulu selalu menegaskan akan memberikan perhatian khusus kepada Amerika Latin. Maklum, dia dari Texas yang berbatasan langsung dengan Meksiko. Setelah terpilih, ternyata fokusnya tetap ke negara-negara Arab, sebagaimana pendahulunya. Bahkan, tidak sekali pun Bush sempat berkunjung ke salah satu negara Amerika Latin. Toh dia terpilih lagi.

Pihak yang dulu rajin mencatat janji-janji kampanye itu (dan berniat akan menagihnya) sebaiknya juga membatalkan niat itu. Bahkan tidak perlu membuka catatan itu. Apalagi menagihnya. Penagihan itu hanya akan mempersulit keadaan. Kepuasan bisa menagih janji itu tidak akan menghasilkan apa-apa. Hanya akan menimbulkan komplikasi. Bahkan komplikasi politik.

Padahal, kita semua tahu krisis ekonomi yang disertai komplikasi politik akan memperparah keadaan. Itu yang sedang dihadapi Malaysia saat ini. Kita sudah pernah merasakannya. Mestinya kita sudah kapok dengan keadaan seperti itu pada tahun 1998.

Kita harus berterima kasih karena dalam kesulitan ekonomi ini kubu oposisi tidak banyak mempersoalkan pemerintah. Meski penyebabnya mungkin karena Golkar pecah. Dan perpecahannya mungkin akan lebih lama daripada masa krisis ini.

Demikian juga PPP. Dua kubu dalam partai Islam ini bukanlah tipe yang mudah bersatu. Partai Islam satunya, PAN, bahkan sudah bergabung ke pemerintah. Hanya PKS yang masih solid. Bahkan kelihatannya kian solid. Hasil munas terakhir PKS mendapat apresiasi yang luar biasa di kalangan anak muda Islam.

Dengan gambaran itu, mestinya masa denial bisa segera kita lewati. Agar proses pengobatan krisis bisa efektif. Krisis ini tidak bisa diatasi hanya oleh pemerintah meski yang utama adalah pemerintah. Pengakuan pemerintah bahwa kita lagi sulit akan menimbulkan rasa simpati dan empati. Dari sini akan muncul saling membantu. Saling percaya. Krisis ini akan sulit diatasi kalau terjadi krisis kepercayaan. Atau kalau tidak ada rasa ketenangan dalam berusaha.

Tidak usahlah ada yang mengatakan bahwa ini belum krisis. Inflasi masih terkontrol. Harga tomat masih Rp1.000 per kg. Dan sebangsa itu. Fakta itu akan cepat berubah. Tiwas kita kehilangan waktu. Tidak perlu juga menyalahkan Amerika Serikat (AS), Korea, atau Tiongkok. Apalagi menyalahkan SBY segala. Itu hanya akan menambah sinyal bahwa kita, secara tidak sadar, masih berada di fase denial.

Kita syukuri ekonomi kita di masa lalu pernah tumbuh tinggi beberapa tahun. Sehingga kini kita lebih punya modal untuk memasuki masa sulit. Tapi, tidak perlu juga ada yang terlalu membanggakan masa-masa itu karena toh sudah lewat. Itulah masa ketika AS mengatasi krisis ekonominya yang berat pada 2008 dengan cara semena mena: mencetak uang dolar sebanyak-banyaknya!

Cara itu berhasil menggairahkan ekonomi AS (juga ekonomi dunia). Tapi juga berhasil meningkatkan utang luar negeri yang fantastis di banyak negara! Termasuk Tiongkok. Angka-angka peningkatan utang luar negeri itu mengerikan. Dalam waktu singkat.

Mengapa AS mengatasi krisisnya dengan mencetak uang dolar sebanyak-banyaknya? Karena toh dolar itu akan beredar di luar negeri. Tidak akan punya dampak inflasi di dalam negeri AS sendiri. Coba kalau negara lain yang mencetak uang seperti itu. Misalnya kita. Ekonomi negara itu akan hancur karena inflasinya tidak terkendali. Tapi, karena dolar yang beredar di luar AS lebih besar daripada yang beredar di AS sendiri, pencetakan uang itu tidak merusak ekonomi AS.

Itulah untungnya mata uang dolar menjadi mata uang dunia. Ia bisa digunakan dengan mudah untuk menyehatkan ekonominya sekaligus mengendalikan ekonomi negara lain.

Tahun lalu, ketika AS merasa tujuan mengatasi krisisnya sudah selesai, dimulailah rencana mengetatkan dolar. Dan akan terus diketatkan lagi pada tahun-tahun mendatang. Agar tidak memukul ekonomi AS.

Peredaran dolar yang berlebih untuk masa yang terlalu lama pada akhirnya akan membahayakan AS. Proses pengetatan dolar itulah yang menjadi wabah penyakit sekarang ini. Maka kita akui saja ekonomi kita lagi sulit dan akan sulit.

Segeralah kita akhiri masa denial. Lalu kita lakukan apa yang harus kita lakukan. (*)

sumber : http://www.radarbanyumas.co.*id

Read Full Post »

Egois Dua Tahun untuk Mendung Tebal
Oleh: Dahlan Iskan

Selama seminggu kemarin, tiga kali saya diminta berceramah oleh perusahaan besar yang sedang mengumpulkan manajer mereka.
Tema besarnya: Apa yang harus dilakukan di saat yang sulit seperti ini?

Saya bilang, saya bukanlah ahli di bidang itu. Tapi, tiga kali berhasil melewati krisis (1988, 1998, dan 2008) membuat saya belajar banyak. Pada 1988, kebijakan uang ketat sangat memukul ekonomi. Pada 1998, krisis moneter menghancurkan banyak hal, termasuk kekuasaan negara. Pada 2008, ekonomi negara sebesar AS kelimpungan.

Yang sudah pasti: Semua itu tidak bisa diatasi dengan hanya ngomong doang. Karena itu, jangan mengeluh terus, jangan marah-marah, jangan menyalahkan siapa pun, dan jangan pula punya mental denial. Cukuplah itu diwakilkan kepada politisi.

Misalnya, ada manajer perusahaan yang mengajukan persoalan begini: Kok harga BBM nonsubsidi kita 50 persen lebih mahal daripada Singapura? Rupanya, perusahaan itu memerlukan bahan bakar minyak (BBM) yang sangat besar. Tiap hari. Itu, katanya, memberatkan perusahaannya.

Apalagi dalam situasi sulit seperti ini. Kok pemerintah membiarkan hal itu terjadi. Kebijakan tersebut membuat dia tidak bisa bersaing. Terutama dengan perusahaan luar negeri.

Karena itu, saya sarankan tidak perlu memperpanjang keluhan. Berjuang ke pemerintah pun belum tentu bisa berhasil. Tiwas kehabisan tenaga dan waktu. Saya lebih menyarankan begini: cari beberapa teman yang juga memerlukan banyak BBM.

Imporlah sendiri! Kalau selisih harganya benar-benar 50 persen, untuk apa tidak memberontak? Saya lihat, perusahaan itu mempunyai kemampuan untuk melaksanakannya. Bahkan, keluhan tersebut mungkin justru bisa jadi bisnis barunya.

Mungkin memang harus membangun tangki atau menyewanya. Tapi, bukankah saat ini lagi rendah-rendahnya harga baja? Bagi perusahaan yang masih punya uang, membangun bisnis baru saat ini adalah yang terbaik. Mumpung semuanya lagi tertekan. Dua tahun lagi, ketika ekonomi mulai baik, perusahaan barunya mulai berjalan.

Yang sulit adalah mereka yang membangun bisnis baru dua tahun lalu. Saat investasi dulu, semuanya lagi mahal. Ketika pabriknya selesai dibangun sekarang ini, ekonomi lagi susah.

Kesulitannya berlipat-lipat: harus menjalankan perusahaan baru, harus mengembalikan modal, dan harus membayar utang. Sedang perusahaan baru itu belum mendapat pasar.

Pada saat sulit seperti ini, orang-orang di lapangan biasanya lebih tepat untuk diajak bicara: untuk menemukan jalan keluar, mencari terobosan, melahirkan ide, dan mencari cara menghemat.

Inilah waktunya direksi sebuah perusahaan harus lebih banyak mendengar para manajer mereka di garis depan. Inilah saatnya direksi sebuah perusahaan berhenti berpidato.

Tidak ada gunanya berpidato. Hasilnya nol. Juga harus berhenti memberikan petunjuk. Berhenti marah. Berhenti mengandalkan gengsi dan tinggi hati. Inilah waktunya untuk lebih banyak mendengarkan.

Dengan sikap rendah hati dan pikiran terbuka. Untuk menerima usulan-usulan cerdas dari ujung tombak. Terutama ujung tombak yang muda-muda. Yang umurnya 27-35 tahun.

Inilah saatnya semua perusahaan hanya memikirkan nasibnya sendiri-sendiri. Tidak ada gunanya memikirkan orang lain. Ini kelihatannya egois. Tapi, hanya sikap egois yang bisa menyelamatkan perusahaan masing-masing. Berhentilah bersandar pada orang lain. Termasuk bersandar pada pemerintah.

Saya membayangkan, kalau sebagian besar perusahaan di Indonesia ngotot menyelamatkan perusahaan masing-masing, akan banyak perusahaan yang selamat. Bahkan maju. Kalau sebagian besar perusahaan selamat, berarti ekonomi kita selamat.

Jangan ada pikiran kalau A bersaing dengan B, maka salah satunya akan kalah. Tidak begitu. Bisa-bisa dua-duanya menang. Yang kalah mungkin C. Kalau C pun melawan, yang kalah mungkin D.

Kalau semua perusahaan di dalam negeri mulai A sampai Z saling melawan, bisa jadi ekonomi nasional yang menang.

Kita menghadapi setidaknya dua tahun yang sangat berat. Tapi, percayalah, mendung tebal tidak akan menggelayut di satu tempat terus-menerus. (*)

sumber : http://www.radarbanyumas.co.*id

Read Full Post »