Feeds:
Posts
Comments

Kita hidup di dalam waktu, sebagaimana ikan hidup di dalam lautan. Karena waktu itu abstrak dan kita tak mampu mengukur panjangnya, kapan waktu bermula dan kapan berakhir, maka manusia menciptakan sekat-sekat, seakan waktu dipenggal-penggal jadi potongan yang terukur.

Manusia membuat rumah dan bilik-bilik kecil dalam rentangan waktu agar merasa lebih nyaman. Bukankah manusia senang membuat kamar-kamar ketika membangun rumah besar agar merasa lebih nyaman dan merasakan privasi? Kita menciptakan batas dan perhitungan sejak dari detik, menit, jam, dan hari. Selama satu hari atau 24 jam, kita susun agenda dan batas-batas untuk penanda perjalanan hidup yang tak kenal berhenti, agar kita tahu sampai di mana kita melangkah dan apa saja yang kita jalani.

Akumulasi tujuh hari lalu disebut seminggu, dan sebanyak empat minggu kita namakan sebulan. Lalu kita namakan setahun ketika mencapai 12 bulan. Seakan waktu yang abstrak tadi menjelma bagaikan penggalan-penggalan bahan baku, lalu kita bangun halte, tenda atau rumah tempat bernaung dan beraktivitas di dalam lorong waktu mengurung kita semua, yang penuh misteri dan tak terjangkau asal-usul dan ujung-pangkalnya. Kita semua lahir, beraktivitas, dan mati dalam pelukan waktu, bagaikan ikan dalam pelukan lautan.

Yang kemudian membuat kita sibuk serta heboh adalah sederet festival yang diciptakan pada setiap penggalan waktu ketika menandai tahun baru. Tonggak-tonggak penanda waktu tadi lalu mendorong manusia berkreasi untuk merayakan masa lalu dan menjemput masa depan. Agar peta dan arah perjalanan hidup lebih tergambar, maka diciptakan penggalan-penggalan agak panjang, seperti sewindu, satu dasawarsa, seabad. Ada lagi batasan yang agak longgar seperti era, zaman, masa yang semuanya mengundang imajinasi yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa natural dan kultural.

Persepsi kita terhadap ruang dan waktu jelas berbeda. Ruang relatif statis, manusia yang bergerak ke sana ke mari di dalam ruang. Ada orang yang pernah berkeliling dunia dan menjelajahi ratusan negara. Tetapi ketika planet bumi ini diposisikan seperti kelereng di antara triliunan kelereng planet lain di jagat semesta ini, maka sejauh-jauh manusia bepergian, sesungguhnya masih di situ-situ juga. Bagaikan semut yang hanya bergerak mengitari sebuah jeruk. Lalu, waktu ini sesungguhnya bergerak lurus dan linier ke depan, ataukah berbentuk lingkaran yang pada akhirnya tak ada ujung dan pangkalnya?

Andaikan waktu bergerak ke depan bagaikan kereta, apakah datar saja ataukah naik-turun secara tajam? Lagi-lagi, jangan-jangan diskusi manusia untuk mengetahui hakikat ruang dan waktu ibarat semut yang naik pesawat terbang, dia tak mampu mengukur luas ruang serta jarak perjalanannya. Ada nasihat klasik, yang paling penting itu hiduplah sekarang dan di sini, now and here. Buatlah penggalan-penggalan waktumu ibarat sawah, lalu sebarkanlah biji tanaman sebanyak- banyaknya agar lingkunganmu menjadi rindang dan mendatangkan buah.

Manusia tidak menciptakan waktu, namun terlempar di dalam ruang dan waktu. Yang dituntut adalah bagaimana membuat penggalan waktu dan bilik ruangmu bermakna bagi dirimu dan lingkunganmu. Peringatan Alquran sangat tajam dan rasional tentang penggunaan waktu ini. Sungguh manusia selalu dibuntuti kerugian akan kehilangan modal waktu, yang sekali berlalu tak akan kembali lagi dan tidak bisa ditemukan lagi. Maka segera isi ketika waktu datang menemuimu dengan iman dan amal kebajikan. Jika tidak, kamu akan bangkrut, merugi.

Namun karena kita sering lupa dan memandang murah akan waktu, manusia diperintahkan untuk saling memperingatkan dan saling mengajak melakukan investasi kebenaran. Lagi-lagi, betapa beratnya bersikap konsisten beramal saleh dan selalu menegakkan kebenaran, maka kita diingatkan untuk bersikap sabar, committed, dan konsisten. Makanya, jangan hanyut dengan hiruk-pikuk festival. Festival itu bisa sarat dengan makna dan pesan kehidupan Ilahi yang bersifat transenden dan menghibur.

Tetapi festival juga bisa tak lebih sebagai gemuruh dalam sekat-sekat waktu tanpa visi dan makna. Untuk memotong kejenuhan akibat rutinitas hidup lalu diganti dengan hiburan sesaat. Pada setiap event dan pergantian tahun, tanyakan pada dirimu, investasi kebajikan apa yang aku tanamkan selama ini. Apa maknanya bagi anak-cucuku dan bagi rakyat serta bangsaku. Pertanyaan ini sangat relevan direnungkan oleh para politisi dan pejabat tinggi negara yang senang menciptakan momen-momen dan festival politik, terutama momen lima tahunan untuk memilih wakil rakyat dan presiden serta wakilnya.

Orang mudah terperangkap pada sekat-sekat hari, minggu, bulan dan tahun. Padahal untuk membangun bangsa, orang mesti melihat dan berpikir peta era dan zaman guna menciptakan warisan sejarah yang ditandai dengan tembok abad. Orang kecil dan pikiran kecil hanya cocok untuk ruang yang kecil dan sempit. Tetapi bangsa yang besar diperlukan pikiran dan langkah besar, berpikir dalam rentang waktu melampaui batasan bulan dan tahun.

Advertisements

Kehidupan sekeliling sungguh merupakan buku terbuka yang menyampaikan pelajaran serta pesan hidup yang amat jelas dan nyata. Masalahnya, apakah kita membuka mata, telinga, dan pikiran ataukah tidak?

Untuk membaca lingkungan sosial bahkan kita tak perlu keluar rumah. Surat kabar dan televisi selalu setia mendatangi kita dengan beraneka ragam cerita dan pelajaran hidup. Misalnya saja, di balik berita korupsi yang dilakukan para pejabat pemerintah yang kadang membuat lelah emosi terpampang sangat jelas pesan kehidupan yang pantas sekali kita renungkan.

Saya memiliki beberapa kenalan, baik yang dekat maupun yang jauh, sekarang lagi berurusan dengan KPK dengan sangkaan korupsi. Dari sumber pemberitaan, mereka itu sudah kaya raya. Depositonya miliaran. Rumah dan kendaraan berlebih. Allah telah memberi karunia keluarga dan anak-anak yang sehat. Pendeknya, terlalu banyak yang mestinya disyukuri dengan memperbanyak amal kebajikan, setia membayar pajak, zakat, dan sedekah, serta kebajikan lain.

Berbahagialah bagi mereka yang melimpah harta dan memiliki jabatan tinggi karena semakin terbuka lebar peluang untuk membantu dan melayani masyarakat sebagai tabungan amal saleh bekal kehidupan pada masa depan. Dalam kajian psikologi, salah satu sumber kebahagiaan tertinggi bagi seseorang adalah ketika bisa membahagiakan orang lain sebanyak mungkin.

Peluang itu paling dekat diraih oleh mereka yang berilmu, memiliki harta berlimpah, dan kekuasaan untuk membuat kebijakan publik. Membaca panggung kehidupan di sekeliling, saya sering tercenung dan sangat menyayangkan, mengapa mereka yang telah memperoleh anugerah yang sedemikian mewah dengan kekayaan dan jabatan serta keluarga tidak mampu mensyukuri hidup dan menjaga amanat yang diemban.

Mensyukuri itu memanfaatkan anugerah Allah di jalan yang benar dan baik sesuai sifat anugerah itu. Mensyukuri ilmu ialah mengajarkan pada orang lain dan memanfaatkannya untuk kemaslahatan hidup. Mensyukuri jabatan ialah menolong dan menyejahterakan masyarakat dengan kewenangan yang dipegang. Betapa lama dan berat perjuangan kita untuk menjadi seorang sarjana.

Lalu setelahnya mesti berjuang lebih keras lagi di bidang ekonomi agar mandiri, lepas dari belas kasih orang tua. Belum lagi agenda perjuangan hidup lain seperti membina keluarga, sosial, dan jenjang karier birokrasi. Ketika sudah berhasil meraih strata sosial, ekonomi, dan jabatan tinggi, yang mesti selalu diingat dan direnungkan adalah; apakah keberhasilan dan produktivitas hidup saya itu meaningful ataukah tidak?
Apakah prestasi saya secara kualitatif dan sosial bermaknabagi dirisendiri, keluarga, masyarakat, dan bangsa? Tentu saja masing-masing memiliki jawaban sesuai referensi nilai-nilai hidup yang mereka pegang dan yakini. Bagi orang beragama mestinya sangat sadar, semua ini amanah dan anugerah. Sebagai amanah mesti dipertanggungjawabkan kepada pemberi amanah.

Sebagai anugerah mesti disyukuri dengan cara saling berbagi dan menolong. Tak ada ruang sedikit pun untuk sombong karena tidak mungkin kita hidup tanpa bantuan orang lain, terutama orang-orang terdekat, apa pun jenis pekerjaannya. Banyak sekali agenda dan permasalahan hidup yang tidak selesai hari ini, kita selalu mengharapkan masih ada esok hari, dan masih ada orang lain bersama kita.

Begitu pun keyakinan tentang akhirat? Mengapa kita yakin dan mengharap ada akhirat? Karena banyak persoalan hidup yang belum dan tidak terselesaikan di dunia. Banyak orang baik dan tulus hidupnya, tetapi malah sengsara dan terpinggirkan. Sebaliknya, banyak orang yang membuat orang lain susah, menjarah uang rakyat dan negara, tetapi mereka merasa menang dan hebat.

Ingat, drama hidup belum berakhir di sini. Mesti ada hari esok untuk menyelesaikan secara fair, adil. Maka itu, semua agama besar mengajarkan dua doktrin yang sangat fundamental: ada hari perhitungan berdasarkan hukum sebab-akibat yang berada di tangan Sang Maha Hakim yang keadilannya absolut. Jangan lelah membuka mata, menangkap makna, agar hidup kita lebih produktif dan bermakna.

Kita kesal dan marah pada sekelompok orang yang sibuk hanya mengejar jabatan dan kekayaan untuk kepuasan pribadi dengan merampas hak milik orang lain. Namun, kita juga berterima kasih pada mereka karena telah berperan mengajarkan hidup bahwa apa yang mereka lakukan tak ubahnya anak-anak kecil yang asyik membuat istana pasir di pantai, yang tiba-tiba buyar tanpa bekas ketika diempas ombak.

Salah satu ombak paling dahsyat yang tak mungkin ditahan adalah ketika kematian tiba. Lalu, apa yang tersisa? Silakan masing-masing menjawab untuk dirinya sendiri.

Alkisah, terdapat sebuah kapal kecil mengalami kecelakaan di laut. Dari sekian banyak penumpang, terdapat seorang yang pandai berenang sehingga berhasil menyelamatkan diri di sebuah pulau terpencil, tak ada penghuninya.

Dengan sabar dia menunggu kalau-kalau ada kapal yang mampir. Selain cuaca panas, di pulau itu juga sering turun hujan lebat. Maka, dia membuat gubuk tempat bernaung dari terik panas matahari dan curah hujan. Dia bertahan hidup dengan mencari buah-buahan, menangkap ikan, dan rajin berdoa kepada Tuhan, semoga segera datang pertolongan. Namun belum juga ada tanda-tanda datang pertolongan.

Suatu hari setelah seharian mencari kayu dan buah-buahan, dia menangis pilu melihat gubuknya terbakar. ”Ya Tuhan, apa salah dan dosaku. Tega nian Engkau melakukan ini padaku. Satu-satunya milikku hanyalah gubuk ini untuk bertahan hidup. Tapi sekarang terbakar.” Besok paginya dia kaget campur gembira ketika melihat ada kapal mendekat ke pulau itu yang datang menawarkan pertolongan.

Dia pun bertanya, ”Dari mana Saudara tahu bahwa saya sudah lama terdampar di pulau ini dan siang-malam berdoa kepada Tuhan menunggu pertolongan?” Penolong itu pun menjawab, ”Aku melihat asap api membubung dari arah pulau ini. Aku yakin pasti ada seseorang yang memerlukan pertolongan, maka aku datang ke sini dan ternyata dugaanku benar. Ayo segera naik kapal, kita kembali ke daratan.”

Pesan moral kisah singkat ini sangat jelas. Ketika terkena musibah, jangan berhenti berusaha dan berdoa. Berusaha dengan segenap kekuatan nalar dan tenaga, berdoa kepada Tuhan dengan ketulusan hati sedalam- dalamnya. Ora et labora. Sehebat dan sepintar apa pun seseorang tak ada jaminan tercapai apa yang didambakannya dalam hidup. Jika tidak disertai kepasrahan kepada Tuhan, ketika terjadi kegagalan akan semakin frustrasi dan kehilangan keseimbangan hidup.

Bahkan ada yang bunuh diri. Sebaliknya, sekalipun rajin berdoa jika tidak disertai usaha secara rasional dan sungguh-sungguh, tak akan terjadi keajaiban. Misalkan Anda masuk ruang ATM ingin mengambil uang, jika nomor PIN salah, uang tak akan keluar sekalipun berjam-jam Anda berdoa dan bersembahyang di ruang ATM.

Pesan moral kedua, jawaban Tuhan dari doa seseorang tidak seketika. Bahkan tidak jarang dalam bentuk lain, di luar apa yang diminta. Dalam hal ini, Tuhan mengganti dengan sesuatu yang lebih tepat bagi hamba- Nya karena Tuhan Mahatahu apa yang terbaik baginya. Makanya ketika berdoa, mesti yakin bahwa doanya didengar dan dikabulkan, tetapi hindari sikap mendikte Tuhan ketika berdoa.

Dalam tradisi Islam, berdoa selalu dimulai dengan pujian dan penyampaian rasa syukur atas anugerah Tuhan yang melimpah tak terhitung. Kedua, menyampaikan permohonan. Ketiga, ditutup dengan sikap rendah hati bahwa Tuhan Mahasuci dari apa yang manusia pikirkan dan sungguh segala pujian hanya milik Tuhan. Dengan urutan ini, kita diajari berdoa dengan sopan dan sungguh-sungguh, tetapi ujungnya keputusan akhir kita kembalikan kepada Tuhan yang mahatahu, mahasuci, dan maha terpuji.

Artinya, kita mesti rida dengan apa pun keputusan Tuhan yang akan diberikan kepada kita. Bahwa apa yang terjadi, itulah yang terbaik setelah kita berusaha secara optimal, lahir dan batin. Dalam Alquran diingatkan (QS 2:216), kita sering membenci sesuatu, padahal di balik itu justru tersimpan kebaikan. Sebaliknya, kita sering terpikat dan kagum akan sesuatu, padahal apa yang kita dambakan itu mencelakakan.

Makanya orang tua selalu memberi nasihat, janganlah membenci atau mencintai sesuatu secara berlebihan karena bisa jadi suatu saat apa yang kamu cintai atau benci akan berbalik posisinya. Banyak kisah hidup yang membenarkan peringatan di atas. Misalnya saja, ada orang yang kesal karena terlambat naik pesawat gara-gara satu dan lain hal yang tidak terduga. Beberapa jam kemudian baru tersadar dan dibuat kaget, merenung, ternyata pesawat yang mestinya dia naiki mengalami kecelakaan.

Cerita serupa bisa diperbanyak karena dalam masyarakat banyak terjadi hal yang awalnya bertolak belakang dengan logika sehat dan keinginan, tetapi setelah selang beberapa waktu baru terbuka tabir kehendak dan kasih Tuhan di balik suatu musibah. Salah satu cara untuk bermohon kepada Tuhan agar terhindar dari musibah yang tidak terduga adalah dengan memperbanyak bersedekah, sekecil apa pun yang dilakukan secara rutin.

Jangan lewatkan tiada hari tanpa menolong dan menggembirakan orang lain, khususnya mereka yang dalam kesulitan. Kalaupun tidak bisa harian, minimal dilakukan setiap minggu secara sadar, dilakukan dengan tulus. Beberapa orang pernah mengalami kejadian- kejadian yang membuatnya surprisedseperti kisah singkat di atas tentang gubuk yang terbakar. Berulang kali terhindar dari kecelakaan, yang menurut nalar sulit dipahami.

Dia yakin, itu pasti semata pertolongan Tuhan karena dia secara rutin senang menolong hamba Tuhan yang dalam kesulitan. Rasulullah bersabda, Tuhan akan senantiasa menolong hamba-Nya selama dia senang menolong sesamanya

Ditulis oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat
Jumat, 17 Januari 2014 07:12
Alkisah, terdapat seorang tukang kayu kehilangan arloji yang sangat dicintainya, diduga terjatuh dan terbenam di tumpukan serbuk kayu. Maka dia mencari-cari dan membongkar tumpukan kayu itu, tetapi tidak juga ketemu.

Teman-temannya pun ikut membantu bongkar sanabongkar sini, tetapi tidak juga berhasil menemukannya. Ketika tiba waktu makan siang, tukang kayu itu pun meninggalkan tempat kerjanya dengan perasaan kecewa dan kesal, mengapa jam kesayangannya hilang. Saat itu, ada seorang anak yang dari tadi memperhatikan tukang kayu mencari arlojinya yang hilang, lalu mendekat.

Tak lama kemudian anak tadi berhasil menemukan arlojinya. Ketika menerima arloji itu, tukang kayu heran dan bertanya, apa yang dilakukan sehingga dengan cepat menemukan jam tangan itu. Anak tadi menjawab: “Tadi aku hanya mendekat dan duduk di lantai. Aku pejamkan mata, mendengarkan keheningan, lalu terdengar detak jarum arloji. Suaranya jelas sehingga aku telusuri dari mana arah suara itu. Akhirnya aku menemukan arloji itu.”

Jadi, yang membantu menemukan arloji tadi adalah keheningan sehingga suara jarum arloji yang lembut pun terdengar, sementara tukang itu mencarinya dengan emosi, dengan buru-buru. Kisah singkat ini mengandung dua hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Yang pertama adalah arloji, yang memberikan arah dan peta perjalanan waktu. Jika ditarik lebih luas lagi, bayangkan, apa yang akan terjadi dengan kehidupan seseorang jika tidak memiliki peta serta arah kehidupan.

Dia tidak tahu berada di titik koordinat mana dan hendak melangkah ke mana hidupnya. Siapa pun yang masuk dalam dunia bisnis, politik, pendidikan, dan dunia lain mesti tahu di mana dia berada dan tren apa yang tengah terjadi, lalu kita hendak membuat pilihan apa. Kedua adalah keheningan. Suasana hati dan pikiran yang tenang dan jernih sehingga menimbulkan ketajaman dalam memandang lingkungan agar menghasilkan respons yang tepat.

Betapa banyaknya agenda dan persoalan hidup yang kita hadapi setiap hari sehingga kita mesti memiliki visi dan arah yang akurat sebagaimana akurasi jarum jam menunjukkan waktu. Untuk membuat keputusan, diperlukan ketelitian dan keheningan hati, pikiran dan sikap. Makanya orang tua selalu memberi nasihat: “Yang hati-hati kalau menyeberang jalan. Yang hati-hati dan teliti kalau memilih dan membeli barang.”

Dan seterusnya. Berbagai pengumuman pun biasa diawali dengan kalimat: “Mohon per-hati-an!” Jadi betapa pentingnya keheningan hati dilibatkan dalam setiap tindakan agar tidak salah pilih dan menyesal kemudian. Sekarang ini setiap saat kita diberondong dan dibanjiri berita, iklan, gosip, rumor, dan tawaran pinjaman uang dari bank.

Kita dibuat bingung untuk membedakan berita yang benar dan salah, yang mencerahkan pikiran dan yang menyesatkan. Begitu keluar rumah atau menonton televisi langsung dihadang iklan yang menawarkan produk, semuanya menjanjikan kemudahan dan kenikmatan hidup. Terhadap itu semua, kita perlu belajar pada perilaku anak kecil yang menemukan arloji.

Duduk tenang, hati dan pikiran biarkan mendengar dan berbicara, jangan nafsu yang mengendalikan dan mendikte keputusan kita. Perlu jeda untuk mendengarkan suara hati sebelum memberikan respons karena setiap respons akan membawa implikasi dan tanggung jawab (responsibility) terhadap apa yang diputuskan. Memasuki tahun politik 2014, pengetahuan, keluasan wawasan, pikiran kritis, dan keheningan hati mesti dipadukan.

Ibarat masuk pusat perbelanjaan, banyak barang dagangan yang menggoda, masingmasing diiklankan sebagai yang terbaik. Begitu pun dalam panggung politik, banyak parpol yang ditawarkan serta politisi yang mengiklankan diri, terdapat beberapa pilihan di depan kita. Satu, akan golput, kedua, asal memilih berdasarkan bujuk rayu iklan, ketiga, dengan pertimbangan kritis dan keheningan hati. Tiap pilihan memiliki implikasi moral dan politik dalam kehidupan bernegara.

Memilih wakil rakyat, bupati, gubernur, dan presiden bukan sekadar memilih dan membeli arloji sebagai penunjuk waktu atau kompas penunjuk arah. Lebih dari itu mereka adalah pemimpin yang dituntut mengarahkan, menggerakkan, dan mewujudkan keinginan dan cita-cita rakyat agar tercapai kehidupan yang sejahtera, maju, dan damai.

Oleh karenanya dalam panggung politik yang diperlukan bukan sekadar keheningan, tetapi juga sikap kritis dan partisipasi kita semua untuk selalu menyuarakan kebenaran dan keadilan sebagai kekuatan kontrol dan masukan bagi para penyelenggara pemerintahan, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Di atas semuanya, apa pun sikap kita untuk merespons berbagai pilihan dan tantangan, keheningan dan ketulusan hati mesti dihadirkan agar nantinya tidak terjadi penyesalan dan ujungnya kita serahkan kepada Tuhan pemilik dan penguasa jagat semesta.

Metamorfosis Beragama

Pemahaman,pengalaman, dan keyakinan beragama itu mengalami perubahan, pertumbuhan, dan bisa juga degradasi. Ini bisa terjadi pada pribadi, keluarga, masyarakat, dan bangsa.

Dalam masyarakat yang kian majemuk dan konsumtif, agama mestinya menjadi tuntutan hidup yang konstruktif, bukan larut dan menjadi sumber persoalan sosial. Waktu itu umur saya sekitar enam tahun, tinggal di Desa Pabelan, dekat Candi Borobudur, Magelang. Selagi bermain-main dengan teman,saya dikagetkan suara teriakan beberapa pemuda: “Anjing… anjing….” sambil membawa tongkat untuk membunuh anjing yang masuk desa Maka orang-orang desa itu pun keluar ikut membawa tongkat, dan akhirnya anjing itu tertangkap lalu digebuk rama-iramai sampai mati.

Saya melihat dengan iba pada anjing yang tak berdaya itu. Rintihan tangis anjing sebelum mati itu tetap tersimpan di benak saya yang sekali-sekali muncul. Sore hari menjelang Magrib, para pemuda yang ikut membunuh anjing itu menceritakan ulang di serambi masjid dengan rasa bangga. Logika yang saya tangkap, anjing itu najis, tidak boleh disentuh, karena akan membatalkan salat dan mengotori halaman rumah.

Karena najis, anjing mesti dibunuh. Dengan membunuhnya, berarti telah menjaga kesucian agama dan itu berarti berjuang di jalan Tuhan. Saya tidak tahu dari mana awal mula muncul paham bahwa membunuh anjing itu berarti membela agama Allah. Namun, setelah belajar di pesantren, saya baru tahu, anjing itu hewan yang mulia, bahkan Alquran menceritakan tujuh pemuda yang tinggal di Gua Kahfi itu ditemani anjing.

Nabi Muhammad SAW pun memuji anjing yang memiliki sifat setia dan pintar diajak berburu hewan di hutan. Jika kita mencaci anjing atau babi yang tak berdosa, jangan-jangan Penciptanya juga akan marah. Cerita di atas hanyalah salah satu bagian saja dari metamorfosis pemahaman dan pengalaman keberagamaan yang sangat mungkin para pembaca juga memiliki pengalaman serupa.

Dengan bertambahnya usia dan bertemu beragam guru, saya semakin sadar dan sekaligus kadang dibuat bingung oleh kenyataan, bumi ini dihuni oleh manusia dengan ragam agama, dan di dalam satu agama pun terdapat beragam mazhab. Jadi,pemahaman dan sikap keberagamaan itu mengalami metamorfosis, dipengaruhi banyak faktor. Antara lain, buku yang dibaca, guru yang membimbing, perkembangan usia dan pergaulan, pengalaman hidup, jenjang pendidikan, kondisi ekonomi, mazhab yang diikuti, karakter seseorang, kondisi geografis, dan sistem politik pemerintahan, di mana seseorang tinggal.

Semakin Plural

Ketika seseorang lahir dan tumbuh dalam sebuah komunitas homogen dari segi bahasa, agama,dan adat,istilah dan konsep kemajemukan agama itu tidak populer. Namun, ketika penduduk Indonesia dan dunia kian bertambah, perjumpaan lintas pemeluk agama yang berbeda semakin intens,masyarakat tidak bisa lagi mengelak untuk menerima kenyataan, perbedaan mazhab dan agama itu suatu keniscayaan sosial.

Universitas di kota besar khususnya merupakan miniatur masyarakat Indonesia yang pada dasarnya sudah plural dan kini semakin plural.Kenyataan ini bisa memperkaya wawasan beragama, namun bisa juga membuat bingung. Di sini mulai terjadi konflik antara etika komunal dan etika publik, antara ideologi agama dan ideologi negara. Semakin lemah etika publik dan ideologi negara, semakin menguat etika komunal dan ideologi keagamaan.

Gejala ini cukup fenomenal dengan munculnya beragam partai dan ormas keagamaan yang dijadikan kendaraan mobilitas politik dan senjata tawar-menawar dalam penyusunan kabinet. Kalau saja etika publik dan etika bernegara sudah kokoh, kemunculan kelompok-kelompok keagamaan merupakan kekayaandan warna-warni demokrasi.

Tetapi jika negara lemah, kemajemukan komunitas agama, etnis, dan parpol justru akan merongrong bangunan demokrasi dan kemajemukan bukan lagi sebuah mozaik yang indah, melainkan menjadi hirukpikuk dan kekacauan. Proses perubahansosial, ekonomi, dan politik yang berlangsung begitu cepat yang tidak disertai kemajuan pendidikan dan kesejahteraan yang seimbang telah membuat identitas agama menjadi rumah-rumah kecil yang kian eksklusif di tengah rumah Indonesia yang semakin samar-samar sosoknya.

Negara digugat karena tidak memberi rasa aman tenteram bagi warganya. Sosok negara semakin abstrak, yang terlihat dan terasakan adalah hirukpikuk ormas dan parpol yang ramai-ramai mencari dukungan massa rakyat sebagai penyangga dan barter untuk merebut kekuasaan politik dan materi yang melekat pada negara. Negara tak ubahnya sumber tambang berupa uang tunai melalui APBN, bukan lagi bahan mentahseperti di Papua.

Jangan sampai parpol itu nantinya dianalogikan dengan perusahaan tambang. Komunitas keagamaan ini akan selalu mengemuka dalam berbagai format institusi dan gerakan mengingat agama telah menyatu dengan karakter masyarakat Nusantara yang bahkan sekarang semakin menguat karena memperoleh amunisi dan stimulasi dari para politisi untuk dijadikan penyangganya.
Tidak hanya di Indonesia, pada tingkat global pun semarak dan konflik antarkomunitas agama semakin intens. Terjadinya migrasi antarwarga negara sangat berpengaruh terhadap konflik bernuansa etnis dan agama, khususnya di Eropa. Lemahnya negara dalam memberantas korupsi dan dalam menciptakan pemerataan lapangan kerja serta kesejahteraan bagi warga negara akan membuka peluang lebih besar bagi munculnya konflik horizontal dengan dalih etnis dan agama.

Bagi pemerintah daerah yang gigih dan bangga menerapkan perda syariah (Islam) harus lapang dada menerima jika ada beberapa daerah lain yang juga ingin menerapkan perda syariah berdasarkan keyakinan dan ajaran di luar Islam. Perlu diingat, tidak semua kepala daerah adalah Muslim. Dan di mata hukum, semua warga negara, apa pun etnis dan agamanya, memiliki hak dan kedudukan yang sama.

Bayangkan saja, andaikan sentimen agama dan etnis ini semakin menguat dan menjurus ke konflik, sangat mungkin tragedi Balkanisasi akan juga terjadi di Indonesia. Alam Indonesia yang indah ini akan berubah jadi medan perang atas nama Tuhan. Jadi, pemahaman agama – terutama dalam konteks sosial dan bernegara – itu tumbuh mengalami perkembangan dan penyesuaian dengan kondisi objektif setempat. Umat Islam yang tinggal di AS, Eropa, Timur Tengah, dan Indonesia pasti berbeda dalam mengembangkan etika komunal dan etika publik, meski kitab suci dan ritual pokoknya tetap sama.

Tulisan : KOmarudin Hidayat

BELAJAR MATEMATIKA

Belajar matematika, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan bermain game. Pada dasarnya matematika menyenangkan bagi semua orang. Hanya saja matematika ini memiliki banyak sekali level. Jika kita mendapati matematika tidak sesuai dengan level kita, maka kita tidak akan menyukainya.

Sama persis dengan main game. Jika seseorang bermain game dengan level yang tidak sesuai (terlalu sulit) maka orang tersebut tidak akan menyukainya. Untuk menyukainya seseorang harus bermain dari level awal, setelah menguasai maka dia bisa menaikkan levelnya, menuju ke level yang lebih sulit.

Nah, matematika memiliki banyak sekali level. Untuk mudahnya, anggap saja level ini sama dengan kelas yang ada di sekolah. Mulai dati kelas 1, kelas 2, kelas 3, …. dan seterusnya samapai kelas 12…. belum lagi tingkatan yang ada di perguruan tinggi. Jika seseorang kurang menguasai matematika di kelas tertentu, maka untuk kelas lanjutannya dia tidak akan bisa. Ini tentunya membuat orang tersebut semakin tidak suka dengan matematika. Semakin dia tidak suka, maka potensi yang digunakan untuk belajar matematika semakin kecil. Begitulah efek ini terus berlanjut dan saling mempengaruhi.

Jika seseorang tidak menguasai trigonometri yang ada di kelas 10, tentunya di kelas 11 dia semakin tidak bisa dengan trigonometri. semakin dia tidak bisa trigonemetri kelas 11 maka dia makin tidak menyukainya, dan efek berikutnya dia tidak mau mempelajarinya. Efek lanjutannya bisa ditebak, dia makain tidak menyukai trigonometri.

Nah bagi untuk mencegah supaya kita tidak benci matematika, mulai sekarang perbanyaklah latihan soal-soal matematika. Mulailah dari soal-soal yang mudah, dan saya sarankan 70% soal yang kita kerjakan adalah soal-soal yang mudah, supaya kita selalu merasa bisa. Anehnya kalau kita banyak latihan soal-soal yang mudah, maka soal yang sulit akan terasa mudah, karena pada dasarnya soal yang sulit adalah kumpulan dari berbagai soal-soal yang mudah.

Jika anda masih membenci matematika, luangkalah selama 90 hari untuk mengerjakan soal-soal matematika yang mudah, setiap hari 2 jam, jika tidak bisa 2 jam, 1 jam saja, jiika 1 jam tidak bisa, 1/2 jam juga boleh, yang penting anda lakukan setiap hari. Setelah 90 hari maka anda akan makin suka dengan matematika. Dengan semakin sukanya anda dengan matematika, maka anda makin ingin meluangkan waktu lagi untuk mempelajari matematika. Akibatnya kemampuan anda semakin meningkat. Setelah kemampuan anda meningkat, anda akan semakin suka dengan matematika.

Seringkali terjadi hal-hal yang sangat ironis. Ketik seorang siswa disuruh mengerjakan soal matemamatika, dia mengatakan, “ah, ini sudah bisa”. Akibatnya dia tidak mau mengerjakannya. Ketika gurunya memberikan soal yang lebih sulit, dia memengatakan,”wah kalau ini saya tidak bisa.” Karena tidak bisa, dia juga tidak mau mengerjakannya. Jadi maunya apa? soal mudah tidak mau mengerjakan, soal sulit juga tidak mau … Orang yang seperti itu pada intinya memang malas, dan inilah yang menyebabkan dia tidak bisa dan tidak suka matematika.

Untuk itu kerjakanlah soal yang sekiranya kamu bisa. Jika tidak bisa, pikirkanlah minimal 5 menit, atau mungkin 10 menit. Jika masih tidak bisa, carilah soal-soal lain yang lebih mudah, jangan lansgsung menyerah. Luangkan ini setiap hari 2 jam, maka dalam 90 hari anda akan menuai hasil, tanpa sadar nilai matematika kamu di sekolah akan semakin naik, kamu jadi suka dengan matematika, dan akhirnya kamua akan meluangkan waktu lebih banyak, dan semakin lama akan semakin bisa. Ini tentunya akan mempermudah cita-citamu untuk melanjutkan ke perguruan tinggi yang kamu inginkan, 99% tes perguruan tinggi pasti ada matematikanya. Ok, selamat mencoba

SUMBER : http://matematikaomson.blogspot.com/2011/10/belajar-matematika.html (om son)

Ekstrem Kanan Kiri Oke, tapi Tengah Memimpin

Soemarsono, Golongan Kiri, dan Pergolakan Seputar Proklamasi

Cara memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 seperti itu memang sangat khas cara berpikir kita sampai sekarang: Yang penting merdeka dulu! Bagaimana rumitnya urusan setelah itu baru dipikirkan kemudian.

Cara berpikir begitu juga terlihat ketika terjadi reformasi pada 1997/1998. Pokoknya reformasi dulu. Urusan rumit setelah itu dipikir kemudian. Karena itu, pikiran lain yang dilontarkan tokoh seperti Dr Nurcholish Madjid tidak laku. Maklum, waktu itu gelora untuk melakukan reformasi luar biasa besarnya. Bukan hanya gerakan bawah tanah sebagaimana yang terjadi menjelang proklamasi kemerdekaan RI, tapi sampai ke gerakan demo besar-besaran secara terang-terangan: Reformasi sekarang!

Padahal, sekitar seminggu sebelum Presiden Soeharto memutuskan untuk meletakkan jabatan, Cak Nur (begitu panggilan akrabnya) mengemukakan gagasan penting: Bagaimana kalau Pak Harto sendiri yang memimpin jalannya reformasi. Kita, kata Cak Nur, bisa memberi waktu dua tahun kepada Pak Harto untuk menyelesaikan proses reformasi itu. Selama proses itu, kita percaya penuh kepada Pak Harto. Dengan pikiran seperti itu, menurut Cak Nur, reformasi akan berjalan secara terencana. Tentu tidak perlu terjadi huru-hara. Tidak sampai meletus peristiwa Mei 1998. Tapi, pikiran seperti itu, pada masa yang penuh gelora menentang Pak Harto, dianggap pikirannya orang yang lembek. Soeharto harus segera turun takhta. Sekarang! Terlalu enak orang seperti Soeharto diberi waktu dua tahun.

Dua tahun itu lama sekali. Bisa-bisa Soeharto lupa tugasnya untuk melakukan reformasi. Ini sangat khas pola pergerakan revolusioner. Seperti juga sikap para pemuda menjelang proklamasi kemerdekaan dulu. Tidak sabar menunggu Jepang sendiri saja yang memerdekakan kita. Bahkan, saking tidak percayanya, kata-kata Jepang yang menjanjikan kemerdekaan “kelak” dibuat pelesetan di rapat-rapat umum waktu itu, juga di pertunjukan-pertunjukan ludruk: Kita tidak percaya “kelak”, kita hanya percaya “kolak”! Kolak adalah makanan khas Surabaya, yang terbuat dari pisang yang direbus bersama santan dan gula.

Yang selalu terpikir dalam suasana yang revolusioner adalah takut kehilangan momentum. Ini juga yang mewarnai revolusi Madiun 1948 dan G 30 S/PKI tahun 1965. Dalam pikiran revolusioner seperti itu, yang terbayang adalah keindahan melulu: Setelah proklamasi pastilah rakyat makmur. Setelah reformasi pastilah rakyat makmur.

Tidak terbayangkan bahwa setelah proklamasi luar biasa sulitnya. Perasaan telah merdeka ternyata membuat semua orang merasa punya hak yang sama. Lalu, merasa pula berhak melakukan apa saja sesuai dengan keinginan dan aliran politiknya. Ekstremitas terjadi di mana-mana dengan segala bentuk dan latar belakangnya. Yang aliran kanan mengkristal ke Negara Islam Indonesia. Yang kiri mengkristal menjadi peristiwa Madiun. Suasana setelah reformasi kurang lebih sama. Bukan main juga hebohnya. Negara menjadi lemah, pemerintah kehilangan keyakinan, pertentangan muncul dan kerusuhan di mana-mana. Semua orang seperti boleh melakukan apa saja. Dalam proses ini, yang kiri juga mengkristal, meski belum sampai menampakkan wujud formalnya. Yang kanan mengkristal dalam bentuk terorisme sekarang ini

sumber : kickdahlan.wordpress.com